Selasa, 20 Oktober 2015

MAKALAH  
SUPERVISI PENDIDIKAN dan SIMULASI SUPERVISI PENDIDIKAN
(Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kulia
 
Profesi Kenpendidikan)
Dosen Pengampu :
Dr. H. Djadjang Sofwan Haris, S.H., M.Pd.


Oleh :
S RAHAYU RAHMAWATI LEISUBUN
GHIYAS DWI MAHARANI
RESTU NUR CAHYANI
ICHA AMALIA
ISNAN WIRANURSEHA











PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA\
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SURYAKANCANA
 CIANJUR
2014






KATA PENGANTAR


Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan petunjuk, rahmat, dan berkahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan Berjudul “ Supervisi Pendidikan dan Simulasi Supervisi Pendidikan” dari Mata Kuliah Profesi Kependidikan.
Selesainya tugas ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1.      Dosen pengajar mata kuliah.
2.      Teman-teman dan semua pihak yang berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Dengan penuh kesadaran hati, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi almamater, teman-teman, maupun siapa saja yang berkenan membacanya.

Cianjur, 21 September 2014
  
Kelompok VII





DAFTAR ISI





Lembar Judul ..............................................................................................         i
Kata Pengantar ............................................................................................        ii
Daftar Isi .....................................................................................................       iii
BAB I : PENDAHULUAN
  1.1.Latar Belakang Masalah.......................................................................       1    
1.2.Rumusan Masalah .................................................................................        1

1.3. Tujuan Penulisan ..................................................................................        2
BAB II: PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Simulasi...............................................................................        4
 2.2. Instrumen Penilaian...............................................................................        4
2.3. Format Penilaian...................................................................................      13
2.4. Pedoman Penilaian ...............................................................................      14
BAB III : PENUTUP
3.1. Kesimpulan ..........................................................................................      16
3.2. Saran.....................................................................................................      16
 



BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

 Pusat Bahasa Depdiknas (2005) simulasi  adalah satu metode pelatihan yang memperagakan sesuatu dalam bentuk tiruan (imakan) yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya; simulasi: penggambaran suatu sistem atau proses dengan peragaan memakai model statistic atau pemeran.
Udin Syaefudin Sa’ud (2005: 129) simulasi adalah sebuah replikasi atau visualisasi dari perilaku sebuah sistem, misalnya sebuah perencanaan pendidikan, yang berjalan pada kurun waktu yang tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa simulasi itu adalah sebuah model yang berisi seperangkat variabel yang menampilkan ciri utama dari sistem kehidupan yang sebenarnya. Simulasi memungkinkan keputusan-keputusan yang menentukan bagaimana ciri-ciri utama itu bisa dimodifikasi secara nyata.
Sri Anitah, W. DKK (2007: 5.22) metode simulasi merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok. Proses pembelajaran yang menggunakan metode simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada kelas tinggi di sekolah dasar.
Dalam pembelajaran yang menggunakan metode simulasi, siswa dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok. Di samping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk dapat bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.

1.2. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan di bahas dalam makalah ini yaitu :
1.      Apa itu simulasi supervisi pendidikan?
2.      Bagaimana proses pembinaan dari simulasi supervisi pendidikan tersebut?
3.      Apa saja jenis simulasi supervisi pendidikan tersebut?


3. Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian simulasi pendidikan.
2.      Untuk mengetahui proses pembinaan dari simulasi supervisi pendidikan tersebut.
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis simulasi supervisi pendidikan tersebut.


























BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Simulasi
            Kata simulasi berasal dari kata bahasa Inggris yaitu simulation yang berarti pekerjaan tiruan/menirukan. Metode simulasi adalah metode belajar mengajar dengan cara menirukan situasi tiruan untuk memahami konsep, prinsip atau ketrampilan tertentu. Metode ini digunakan sebagai asumsi bahwa tidak semua proses pembelajaran bisa dilakukan secara langsung pada obyek yang sebenarnya. Metode simulasi terbagi menjadi beberapa jenis metode,diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Sosiodrama
 Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antar manusia.
2. Psikodrama
Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis. Metode ini biasanya digunakan untuk terapi agar murid memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya.
      3.  Role playing
Role playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian simulasi yang menekankan keikutsertaan murid untuk menirukan masalah-masalah situasi sosial. Metode ini sering digunakan untuk kalangan anak-anak usia
dini.
4. Langkah-langkah dalam menggunakan metode simulasi:
1)    Langkah persiapan
a. Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak
dicapai.

b. Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang
akan disimulasikan.
c.       Guru menetapkan pemain yang terlibat dalam simulasi,
peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta
waktu yang disediakan.
d.      Memberikan kesempatan kepada murid untuk bertanya
khususnya yang terlibat dalam pemeran simulsi.
2)      Langkah pelaksanaan
a.      Simulasi mulai dimainkan oleh pemeran.
b.      Para murid lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.
c.       Guru memberikan bantuan kepada para pemeran yang
mempunyai kesulitan.
d.       Simulasi hendaknya berhenti pada saat puncak. Hal ini
dimaksudkan untuk mendorong para murid untuk berfikir
dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.
3)      Langkah penutup.
a.        Melakukan dialog baik tentang jalannya simulasi maupun
materi cerita yang disimulasikan.
b.      Memberi kesimpulan dari apa yang telah disimulasikan.

2.2. Instrumen Penilaian

Instrumen adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk mengukur dalam rangka pengumpulan data, yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variable. Dalam bidang pendidikan instrument digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa, factor-faktor yang diduga mempunyai hubungan atau berpengaruh terhadap hasil belajar, perkembangan hasil belajar siswa, keberhasilan proses belajar mengajar guru, dan keberhasilan pencapaian suatu program tertentu. Maka dapat disimpulkan bahwa instrumen penilaian ialah “alat ukur yang digunakan untuk menilai sesuatu yang bertujuan untuk mengumpulkan data guna memperoleh informasi yang diinginkan oleh seseorang”. Dalam dunia pendidikan instrumen penilaian ini digunakan untuk menilai pogram pendidikan yang telah dirancang oleh seorang guru. Selain itu, instrumen penilaian ini juga digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menguasai materi yang disampaikan oleh guru. Dengan melakukan penilaian maka guru akan mengetahui kemajuan yang terjadi dalam diri seorang siswa.
Instrumen penilaian yang dibuat sebagai alat ukur harus sesuai dengan materi yang disampaikan dan dapat memenuhi aspek penilaian yang diharapkan. Aspek penilaian ini meliputi penilaian kemampuan siswa dalam menguasai materi, penilaian sikap siswa, dan juga penilaian keterampilan siswa. Semua aspek penilaian ini dilakukan pada setiap kegiatan pembelajaran, hanya saja penekanan pada setiap aspek berbeda.
1.      Kompetensi: Menggunakan Metode, Media dan Bahasa Latihan Sesuai dengan Tujuan Pengajaran
Indikator Kompetensi:
a.       Menggunakan metode mengajar sesuaidengan tujuan, siswa, lingkungan dan perubahan situasi.
b.      Menggunakan peralatan pengajaran dan alt bantu lain yang sesuai dengan tujuan.
c.       Menggunakan dengan tepat bahan latihan pengajaran sesuai dengan tujuan.
2.      Kompetensi: Berkomuniksasi dengan siswa Indikator Kompetensi:
a.       Memberi petunjuk dan penjelasan yang berkaitan dengan isi pelajaran
b.      Mengklasifikasi petunjuk dan penjelasan apabila siswasalah mengerti
c.       Menggunakan respon dan pertanyaan siswa dalam pengajaran
d.      Menggunakan ekspresi lisan atau tertulis yang dapat ditangkap oleh siswa
e.       Menutuppelajaran
3.      Kompetensi Mendemontrasikan Khasanah Metode Mengajar
Indikator Kompetensi:
a.       Mengimplementasikan kegiatan belajar dalam urutan yang logis
b.      Mendemontrasikan kemampuan mengajar dengan menggunakan barbagai metode
c.      Mendemontrasikan kemampuan mengajar secara individual atau secara kelompok
4.      Kompetensi: mendorong dan Mengalakkan Ketertiban Siswa dalam Pengajaran
Indikator Kompetensi:
a.       Mengunakan prosedur yang melibatkan siswa pada awal pelajaran
b.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi
c.       Memelihara keterlibatan siswa dalam pelajaran
d.      Menguatkan upaya siswa untuk memelihara ketertiba
5.      Kompetensi: Mendemontrasiakn Penguasaan Mata Pelajaran dan Relevasinya
Indikator Kompetensi:
a.       Membantu siswa mengenai maksud dan pentingnya topik
b.      Mendeontrasiakn penguasaan pengetahuan dalam mata pelajaran yang diajarkan
6.    Kompetensi: MengorganisasiWaktu, Ruang, Bahan, dan perlengkapan Pengajaran Indikator Kompetensi:
a.       Melaksanakan tugas-tugas rutin
b.      Menggunakan waktu pengajaran secara efisien
c.       Menyediakan lingkungan belajar yang menarik dan teratu
7.      Kompetensi: melaksanakan Evaluasi Prestasi Siswa dalm Proses Belajar Mengajar Indikator Kompetensi:
a.       Melakukan penilaian selama proses belajar mengajar berlangsung
b.      Mendemontrasiakn kemampuan menlai baik dengan lisan, tertulis maupun dengan pengamatan
c.       Menafsirkan hasil penilaian dalam proses belajar mengajar dan mengkomunikasikan kepada siswa
Pengertian instrumen dalam lingkup evaluasi didefinisikan sebagai perangkat untuk mengukur hasil belajar siswa yang mencakup hasil belajar dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Bentuk instrumen dapat berupa tes dan non-tes. Instrumen bentuk tes mencakup  tes uraian (uraian objektif dan uraian bebas), tes pilihan ganda, jawaban singkat, menjodohkan, benar salah, unjuk kerja (performance test), dan portofolio. Instrumen bentuk non-tes mencakup wawancara, angket, dan pengamatan(observasi). Instrumen Evaluasi yang baik memiliki ciri-ciri dan harus memenuhi beberapa kaidah antara lain Validitas, Reliabilitas, Objectivitas, Pratikabilitas, Ekomonis, Taraf Kesukaran, dan daya pembeda. Instrumen dapat dibagi menjadi dua teknik  yaitu tes dan non test.
1. Tes
a.      Pengertian
Sebelum sampai pada uraian yang lebih jauh, maka akan diterangkan dahulu arti dari beberapa istilah-istilah yang berhubungan dengan tes ini :
1)      Tes
Tes merupakan prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
2)      Testing
Testing merupakan saat pada waktu tes itu dilaksanakan. Dapat juga dikatakan testing adalah saat pengambilan tes.
3)      Testee
Testee adalah merupakan responden yang sedang mengerjakan tes.
4)      Tester
Tester adalah orang yang melaksanakan pengambilan tes terhadap responden. Dengan kata lain, tester adalah subjek evaluasi (tetapi adakalanya hanya orang yang ditunjuk oleh subjek evaluasi untuk melaksanakan tugasnya).
Adapun  tugas tester antara lain adalah :
a)      Mempersiapkan ruangan dan perlengkapan yang diperlukan.
b)      Membagikan lembaran tes dan alat-alat lain untuk mengerjakan.
c)      Menerangkan cara mengerjakan tes.
d)     Mengawasi responden mengerjakan tes.
e)      Memberikan tanda-tanda waktu.
f)       Mengumpulkan pekerjaan responden.
g)      Mengisi berita acara atau laporan yang diperlukan.
Istilah ‘tes’ diambil dari kata testum suatu pengertian dalam bahasa Prancis kuno yang berarti untuk menyisihkan logam-logam mulia atau ukuran untuk membedakan emas, perak dan logam lainnya. Ada pula yang mengartikan sebagai sebuah piring yang dibuat dari tanah.  Dalam konteks Indonesia, ‘piring’yang dimaksud dapat diartikan sebagai penampi; alat untuk menampi seperti nyiru dan badang, yang digunakan untuk  membersihkan/menampi (beras, padi,kedelai,dsb). Jadi, secara etimologis tes berarti suatu “alat”yang digunakan untuk memisahkan atau membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain.
Norman (dalam Djaali dan Muljono,2008) mengemukakan bahwa tes merupakan salah satu prosedur evaluasi yang komperemsif , sistematik, dan obyektif yang hasilnya dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan dalam proses pengajaran yang dilakukan oleh guru. Selanjutnya, Cronbach (1984) mendefinisikaan tes sebagai suatu prosedur yang sistematis untu mengamati dan mendeskripsikan satu aatau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan standar numeric atau system kategori. Dalam penelitian pendidikan, lazim ditemui pengumpulan data melalui tes. Adapun yang dimaksud dengan test ialah:
“Test are valuable measuring instruments for educational research. A test is a set of stimuli presented to an individual in order to elicit responses om the basis of which a numerical score can be assigned”. (Ary, Donald, 1985).
Berdasarkan batasan Donald Ary yang tertera di atas, menunjukkan bahwa tes merupakan bagian penting dalam penelitian pendidikan. Di samping itu pula,test merupakan instrumen prinsip guna mengukur “human performance”, sehingga sering dikatakan sebagai pengukur paling prinsip “behavior” dari sampel (Moore, Gary W., 1983).
b.      Fungsi Tes
Secara umum ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu :
1). Sebagai alat pengukur terhadap anak didik.
2). Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran.
Beberapa fungsi tes diantaranya:
a.       Sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa dengan maksud untuk mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai siswa setelah menempuh proses belajar-mengajar dalam jangka waktu tertentu.
b.      Sebagai motivator dalam pembelajaran, dengan adanya nilai sebagai umpan balik diharapkan meningkatnya intensitas kegiatan belajar. Fungsi ini dapat optimal apabila nilai hasil tes yang diperoleh siswa betul-betul obyektif dan sahih, baik secara internal maupun secara eksternal yangb dapat dirasakan langsung oleh siswa yang diberi nilai melaui tes.
c.       Berfungsi untuk upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan melalui tes penempatan, tes diagnostic dan tes formatif.
d.      Untuk menentukan barhasil atau tidaknya siswa sebagai syarat untuk menentukan berhasil atau tidaknya siswa sebagai syarat untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.
c.                   Penggolongan Tes
Djaali dan Muljono menggolongkan tes menjadi 6 golongan yang berbeda yaitu:
1). Berdasarkan fungsinya, tes dibedakan menjadi 5 golongan yaitu :
a.       Tes Awal (Pre-Test); bertujuan untuk mengetahui sejauh mana materi pelajaran yang akan diajarkan telah diketahui oleh siswa.
b.      Tes Akhir (Post -Test); bertujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang penting telah dikuasai dengan baik oleh siswa.
c.       Penempatan (Placement Test)
Tes jenis ini dilakukan pada awal tahun ajaran untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik sehubungan dengan pelajaran yang akan disajikan. Dengan demikian peserta didik dapat ditempatkan pada kelompok yang tepat, misalnya pada kelompok atas, sedang atau yang lain. Penilaian demikian biasanya menggunakan tes yang disusun dalam lingkup yang luas dan tingkat kesukaran yang bervariasi agar dapat membedakan peserta didik yang sudah atau belum menguasi pelajaran/standar kompetensi tertentu.
d.      Formatif (Formative Test)
Tes formatif dilaksanakan saat pembelajaran sedang berlangsung. Hal demikian untuk memantau kemajuan belajar peserta didik agar dapat memberikan umpan balik baik bagi guru maupun pada peserta didik sendiri. Guru dapat melihat apakah metode atau media yang digunakan sudah tepat untuk  pencapaian tujuan pembelajaran bagi peserta didik.Tes formatif biasanya mengacu pada kriteria tertentu yaitu tercapainya tujuan, sedangkan pada tes penempatan mengacu pada norma tertentu yaitu norma kelompok.
e.       Diagnostik (Diagnostic Test)
Tes diagnostik bertujuan untuk mendiagnose kesulitan belajar peserta didik. Karena tujuannya mendiagnose kesulitan belajar maka harus lebih dahulu diberikan tes formatif untuk mengetahui ada tidaknya bagian yang belum dikuasai. Setelah diketahui ada bagian yang belum dikuasai maka dibuatkan butir-butir soal yang lebih memusat pada bagian itu untuk dapat mendeteksi bagian mana pada pokok bahasan atau subpokok bahasan yang belum dikuasai. Untuk tiap unit dibuatkan beberapa soal yang tingkat kesukarannya relatif rendah, Tujuannya agar dapat diketahui bahwa unit tertentu belum dikuasai sehingga soal-soal tidak dapat diselesaikan meskipun soalnya mudah.
f.       Sumatif (Summative Test)
Tes sumatif dapat mempunyai makna yang sempit sampai yang meluas. Tes sumatif dapat berarti tes yang diberikan pada akhir pokok bahasan, akhir semester, akhir tahun ajaran atau pada akhir jenjang atau program tertentu. Dalam makna sebagai tes akhir tahun ajaran atau jenjang pendidikan tes sumatif  dimaksudkan untuk memberikan nilai  yang menjadi dasar penentuan kelulusan atau pemberian sertifikat kepada peserta didik. Oleh karena itu tes tersebut biasanya disusun dalam lingkup yang luas mencakup semua pokok bahasan yang telah dipelajari dan dengan tingkat kesukaran yang bervariasi.
2. Berdasarkan aspek sikis yang diungkap, dibedakan menjadi 5 golongan yaitu:
a.      Tes Intelegensi (Intelegency test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau memprediksi tingkat kecerdsan seseorang.
b.      Tes Kemampuan (Aptitude test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh peserta tes.
c.       Tes Sikap (Atitude test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap pre-disposisi atau kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu respon terhadap obyek yang disikapi.
d.      Tes Kepribadian (Personally Test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap cirri-ciri khas dari seseorang yang bersifat lahiriah seperti bentuk tubuh, cara bergaul dan cara mengatasi masalah.
e.       Tes Hasil Belajar (Achievement test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap tingkat pencapaian terhadap tujuan pembelajaran atau prestasi belajar.
1.      Berdasarkan Peserta, dibedakan menjadi dua golongan:
a.      Tes Individual  (Individual Test) yaitu tes dimana pelaksana hanya berhadapan dengan satu orang peserta saja
b.      Tes Kelompok (Group Test) yaitu tes dimana pelaksana hanya berhadapan dengan lebih dari satu orang peserta.
2.      Berdasarkan Waktu, dibedakan menjadi dua golongan:
a.      Power test  yaitu tes dimana waktu yang disediakan bagi peserta tidak dibatasi
b.      Speed test yaitu tes dimana waktu yang disediakan bagi peserta dibatasi, biasanya singkat dan hanya siswa pandai saja yang dapat menyelesaikan tes sesuai dengan waktu yang ditentukan.
3.      Berdasarkan cara merespon, dibedakan menjadi dua golongan:
a.      Tes Verbal yaitu tes yang menghendaki jawaban yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat.
b.      Tes Non-verbal yaitu tes yang menghendaki jawaban peserta tes bukan dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat melainkan berupa tingkah laku.
4.      Berdasarkan cara mengajukan pertanyan, dibedakan menjadi tiga golongan:
a.      Tes Tertulis (Pencil and Paper Test) yaitu tes dimana pelaksana tes dalam mengajukan butir-butir pertanyaannya dilakukan secara tertulis dan peserta tes memberikan jawaban tertulis juga.
b.      Tes Tidak Tertulis (non-Pencil and Paper Test) yaitu tes dimana pelaksana tes dalam mengajukan butir –butir pertanyaannnya dilakukan secara tidak tertulis /lisan dan peserta tes memberikan jawaban dengan lisan  juga.
c.       Tes Perbuatan  yang diberikan dalam bentuk tuga satau instruksi kemudian peserta tes mengerjakan tugas sesuai instruksi tersebut dan hanya dinilai oleh pemberi tes.
1.      Non Tes
Untuk menilai aspek tingkah laku, jenis non tes lebih sesuai dipergunakan sebagai alat penilaian. Alat penilaian jenis non tes ini antara lain :
1.      Observasi yakni pengamatan tingkah laku pada situasi tertentu
2.      Wawancara yakni berkomunikasi langsung antara yang menginterviewdan yang di interview. Untuk memudahkan pelaksanaannya perlu disediakan pedoman wawancara berupa pokok-pokok yang ditanyakan
3.      Studi kasus yaitu mempelajari individu dalam periode tertentu secara terus menerus untuk melihat perkembangannya
4.      Skala penilaian merupakan salah satu alat penilaian yang mempergunakan skala yang telah disusun dari ujung yang negatif sampai pada ujung yang positif sehingga pada skala tersebut penilaian tinggal membubuhi tanda cek saja
5.      Chek list sebenarnya hampir menyerupai skala penilaian, hanya pada skala ini tidak perlu disusun kriteria dari negatif sampai positif. Cukup dengan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan diminta dari yang dinilai
6.      Inventori yaitu “pertanyakan” dimana yang ditanya tinggal memilih alternatif jawaban, apakah “setuju” atau “tidak setuju”. Bentuk non tes ini adalah untuk mengetahui sikap yang dimiliki para pelajar setelah menyelesaikan program bidang studi.

2.3.Format Penilaian
Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar Peserta Didik dengan kata lain Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.[1][3]
Format Penilaian dalam pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran.
1.   Kegiatan penilaian meliputi: Penentuan KKM setiap mata pelajaran dengan harus memperhatikan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik.
2.      Pengkoordinasian ulangan yang terdiri atas ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
3.      Penentuan kriteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket melalui rapat dewan pendidik, atau penentuan kriteria program pembelajaran bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem kredit semester melalui rapat dewan pendidik.
4.      Penentuan nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik.
5.      Penentuan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik dan nilai hasil ujian sekolah/madrasah.
6.      Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah dan penentuan kelulusan peserta didik dari Ujian Sekolah/Madrasah sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah bagi satuan pendidikan penyelenggara ujian sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah.
7.      Penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik sesuai dengan kriteria:
a.        menyelesaikan seluruh program pembelajaran,
b.      memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh matapelajaran kelompok mata pelajaran
agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
c.       lulus Ujian Sekolah/Madrasah, dan
d.      lulus Ujian Nasional.

2.4.Pedoman Penilaian
Tujuan dan Fungsi Penyusunan Pedoman Penilaian.
Pedoman Penilaian ini disusun dengan tujuan agar para pendidik dapat melaksanakan penilaian yang meliputi perencanaan, penyiapan bahan, penyelenggaraan, pemeriksaan hasil penilaian, pengolahan, analisis, dan pemanfaatan hasil penilaian serta penyusunan laporan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip/teknik penilaian dan tuntutan standar isi serta standar kompetensi lulusan. Pedoman Penilaian ini dapat berfungsi sebagai acuan pendidik dalam melaksanakan penilaian pencapaian kompetensi peserta didik, laporan kemajuan hasil belajar, dan perbaikan proses pembelajaran.














BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan 
Dalam pembelajaran yang menggunakan metode simulasi, siswa dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok. Di samping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk dapat bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.

3.2. Saran      
Dari kesimpulan yang dijabarkan diatas, maka dapat diberikan saran antara lain:
1.      Guru sebagai profesi yang sangat penting dalam dunia pendidikan harus meningkatkan kemampuannya untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.
2.       Dalam proses profesionalisasi, seorang guru tidak hanya terletak dalam masa-masa persiapan, tetapi juga dalam pembinaan dan cara-cara pelaksanaan tugas sehari-hari.








DAFTAR PUSTAKA

Sutarsih, Cicih dan Nurdin. (2010). Pengelolaan Pendidikan : Bab 14. Supervisi Pendidikan. Bandung :
Uttoko.(2011). Teknik-Teknik Supervisi Kelompok. (diakses di http://kanguut.blogspot.com/2012/05/teknik-teknik-supervisi-kelompok.html
Kurniadi, Dedi Ahmad. Supervisi Pendidikan. (diakses di http://file.upi.edu
Kurosaki, Muhammad Nur. Supervisi Pendidikan.  http://nurkurosaki.blogspot.com/2012/02/supervisi-pendidikan.html











MAKALAH SUPERVISI PENDIDIKAN






BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Dalam perkembangannya, pengawas satuan pendidikan lebih diarahkan untuk memiliki serta memahami bahkan dituntut untuk dapat mengamalkan apa yang tertuangdalam peraturan menteri tentang kepengawasan. Tuntutan tersebut salah satunya tentang kompetensi dalam memahami metode dan teknik dalam supervisi. Seorang supervisor adalah orang yang profesional ketika menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Guru adalah salah satu komponen sumber daya pendidikan memerlukan pelayanan supervisi. Pentingnya bantuan supervisi pendidikan terhadap guru berakar mendalam dalam kehidupan masyuarakat. Untuk menjalankan supervisi diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan dalam peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa, sebab yang diamatinya bukanmasalah kongkrit yang tampak, melainkan memerlukan kepekaan mata batin.

Seorang supervisor membina peningkatan mutu akademik yang berhubungandengan usaha-usaha menciptakan kondisi belajar yang lebih baik berupa aspek akademis, bukan masalah fisik material semata.Ketika supervisi dihadapkan pada kinerja dan pengawasan mutu pendidikan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Hal ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam mengembangkan mutu kelembagaan pendidikandan memfasilitasi kepala sekolah agar dapat melakukan pengelolaan kelembagaan secaraefektif dan efisien.
I.2. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu :

1.      Apakah pengertian supervisi pendidikan?

2.      Apa sajakah tujuan dan sasaran supervisi pendidikan?

3.      Bagaimanakah fungsi supervisi pendidikan?

4.       Apakah prinsip dasar supervisi?

5.      Apa sajakah tipe supervisi pendidikan?

6.      Apa sajakah tehnik-tehnik yang digunakan dalam supervisi pendidikan?

7.      Bagaimanakah peranan guru dalam pelaksanaan supervisi pendidikan?

8.      Bagaimanakah implementasi guru sebagai supervisor?

II.3. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :

1.      Untuk menjelaskan pengertian supervisi pendidikan.

2.      Untuk menjelaskan tujuan dan sasaran supervisi pendidikan.

3.      Menjelaskan fungsi supervisi.

4.      Untuk menjelaskan prinsip-prinsip supervisi pendidikan.

5.      Menjelaskan tipe-tipe supervisi pendidikan.

6.      Untuk menjelaskan tehnik-tehnik supervisi pendidikan.

7.      Guna menjelaskan peranan guru dalam pelaksanaan supervisi pendidikan.

8.      Untuk menjelaskan implementasi guru sebagai supervisor.










MAKALAH SUPERVISI PENDIDIKAN



BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Pengertian Supervisi Pendidikan
Dilihat dari sudut etimologi “supervisi” berasal dari kata “super” dan “vision” yang masing-masing kata itu berarti atas dan penglihatan. Jadi supervisi pendidikan dapat diartikan sebagai penglihatan dari atas. Melihat dalam hubungannya dengan masalah supervisi dapat diartikan dengan menilik, mengontrol, atau mengawasi.

Supervisi ialah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar-mengajar yang lebih baik. Orang yang melakukan supervisi disebut dengan supervisor.

Dalam Dictionary of Education, Good Carter (1959) memberikan pengertian bahwa supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru, merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran, metode, dan evaluasi pengajaran (Sahertian,2008: 17).

Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut :“Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation”. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment).

Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.Supervisi dapat kita artikan sebagai pembinaan. Sedangkan sasaran pembinaan tersebut bisa untuk kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha. Namun yang menjadi sasaran supervisi diartikan pula pembinaan guru. Menurut keputusan mentri pendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977, temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penelik sekolah, dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.Salah satu tugas pengawas dengan perincian sebagai berikut :“mangendalikan pelaksanaan kurikulum meliputi isi, metode penyajian, penggunaan alat perlengkapan dan penilaian agar sesuai dengan ketentuan dan peraturan perudangan yang berlaku”.
 II.2. Tujuan dan Sasaran Supervisi Pendidikan
A.        Tujuan supervisi pendidikan
Adapun tujuan supervisi pendidikan dapat dirinci sebagai berikut :

1.      Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar.

2.      Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan.

3.      Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga berjalan lancar dan berhasil secara optimal.

4.      Menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya.

5.      Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan, serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh.

Menurut Mulyasa (2002) merumuskan tujuan supervisi sebagai bantuan dan kemudahan yang diberikan pada guru untuk belajar bagaimana meningkatkan kemampuan mereka guna mewujudkan tujuan belajar. Dengan supervise diharapkan kegiatan belajar mengajar jadi lebih baik.

 Sahertian (1981) mengemukakan tujuan supervisi adalah :

1)      membantu guru melihat dengan jelas tujuan pendidikan

2)      membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar murid

3)      membantu guru dalam menggunakan sumber pengalaman belajar murid

4)       membantu guru dalam menggunakan metode dan alat pelajaran modern

5)      membantu guru dalam memenuhi kebutuhan murid

6)      membantu guru dalam menilai kemajuan murid dan hasil pekerjaan guru itu sendiri

7)      membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka

8)       membantu guru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yang diperolehnya.

9)      membantu guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap, masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber masyarakat dan seterusnya.

10)  membantu guru agar waktu dan tenaga guru tercurahkan sepenuhnya dalam pembinaan sekolah.

B.     Sasaran supervisi pendidikan

Sasaran supervisi pendidikan ada dua yaitu :

a.       Secara umum sasarannya adalah proses pembelajaran peserta didik dengan tujuan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Karena itu supervisi pendidikan menaruh perhatian utama pada upaya-upaya peningkatan provesionalitas guru sehingga memiliki kemampuan:

1)      Merencanakan kegiatan pembelajaran,

2)      Melaksanakan pembelajaran,

3)       Menilai proses dan hasil pembelajaran,

4)      Memanfaatkan hasil penilaian

5)      Memberikan umpan balik,

6)      Melayani peserta didik yang mengalami kesulitan,

7)      Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan,

8)      Mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu pembelajaran,

9)     Memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran yang tersedia,

10)    Mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, dan teknik),

11)    Melakukan penelitian praktis untuk perbaikan pembelajaran.

b.      Secara khusus dapat diklasifikasikan:

1)      Sasaran administratif (teknis administratif) misal perangkat pembelajaran, meliputi administrasi personal, material, keuangan serta administrasi sarana dan prasarana pendidikan.

2)      Sasaran edukatif (teknis edukatif) misal pelaksanaan pembelajaran, kegiatan yang meliputi kurikulum, PBM dan evaluasi.

3)      Sasaran lembaga, yaitu ditujukan pada keseluruhan aktifitas sekolah.


II.3. Tugas dan Fungsi Supervisi Pendidikan
A.    Tugas Supervisi Pendidikan
Seorang supervisior dapat dilihat dari tugas yang dikerjakannya. Seorang pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor tampak jelas perannya. Sesuai dengan pengertian hakiki supervisi, maka supervisi berperan atau bertugas memberi support (supporting), membantu (assisting) dan mengikutsertakan (sharing).

Selain itu, seorang supervisior bertugas sebagai:

a) Koordinator.

b) Konsultan.

c) Pemimpin Kelompok.

d) Evaluator .

Tugas lain bagi seorang supervisi atau pengawas akademik, yakni mencakup hal-hal berikut:

1)      Mengupayakan agar guru lebih bersungguh-sungguh dan bekerja lebih keras serta bersemangat dalam mengajar.

2)      Mengupayakan agar sistem pengajaran ditata sedemikian rupa sehingga berlaku prinsip belajar tuntas, yaitu guru harus berupaya agar murid benar-benar menguasai apa yang telah diajarkan dan tidak begitu saja melanjutkan pengajaran ke tingkat yang lebih tinggi jika murid Belum tuntas penguasaannya.

3)      Memberikan tekanan (pressure) terhadap guru untuk mencapai tujuan pengajarannya, dengan disertai bantuan (support) yang memadai bagi keberhasilan tugasnya.

4)      Membuat kesepakatan dengan guru maupun dengan sekolah mengenai jenis dan tingkatan dari target output yang harus mereka capai sehubungan dengan keberhasilan pengajaran.

5)      Secara berkala melakukan pemantauan dan penilaian (assessment) terhdap keberhasilan (efektifitas) mengajar guru, khususnya dalam kaitannya dengan kesepakatan yang dibuat pada butir (4) di atas.

6)       Membuat persiapan dan perencanaan kerja dalam rangka pelaksanaan butir-butir di atas, menyusun dokumentasi dan laporan bagi setiap kegiatan, serta mengembangkan sistem pengelolaan data hasil pengawasan.

7)       Melakukan koordinasi serta membuat kesepakatan-kesepakatan yang diperlukan dengan kepala sekolah, khususnya dalam hal yang berkenaan dengan pemantauan dan pengendalian efektifitas pengajaran serta hal yang berkenaan dengan akreditas sekolah yang bersangkutan.

B.     Fungsi Supervisi Pendidikan

Secara umum fungsi supervisi adalah perbaikan pengajaran. Berikut ini berbagai pendapat para tentang fungsi supervisi, di antaranya adalah:

a)      Ayer, Fred E, menganggap fungsi supervisi untuk memelihara program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga ada perbaikan.

b)      Franseth Jane, menyatakan bahwa fungsi supervisi memberi bantuan terhadap program pendidikan melalui bermacam-macam cara sehingga kualitas kehidupan akan diperbaiki.

c)      W.H. Burton dan Leo J. Bruckner menjelaskan bahwa fungsi utama dari supervisi modern ialah menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi hal belajar.

d)     Kimball Wiles, mengatakan bahwa fungsi supervisi ialah memperbaiki situasi belajar anak-anak.

Usaha perbaikan merupakan proses yang kontinu sesuai dengan perubahan masyarakat. Masyarakat selalu mengalami perubahan.Perubahan masyarakat membawa pula konsekuensi dalam bidang pendidikan dan pengajaran.Suatu penemuan baru mengakibatkan timbulnya dimensi-dimensi dan persepektif baru dalam bidang ilmu penegetahuan.

Makin jauh pembahasan tentang supervisi makin nampak bahwa kunci supervisi bukan hanya membicarakan perbaikan itu sendiri, melainkan supervisi yang diberikan kepada guru-guru, menurut T.H. Briggs juga merupakan alat untuk mengkoordinasi, menstimulasi dan mengarahkan pertumbuhan guru-guru.

Dalam suatu analisa fungsi supervisi yang diberikan oleh swearingen, terdapat 8 fungsi supervisi, yakni:

1.      Mengkoordinasi Semua Usaha Sekolah.

Koordinasi yang baik diperlukan terhadap semua usaha sekolah untuk mengikuti perkembangan sekolah yang makin bertambah luas dan usaha-usaha sekolah yang makin menyebar, diantaranya:

a. Usaha tiap guru.

b. Usaha-usaha sekolah.

c. Usaha-usaha pertumbuhan jabatan.

2.      Memperlengkapi Kepemimpinan Sekolah

Yakni, melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka memiliki ketrampilan dan kepemimpinan dalam kepemimpinan sekolah.

3.      Memperluas Pengalaman

Yakni, memberi pengalaman-pengalaman baru kepada anggota-anggota staf sekolah, sehingga selalu anggota staf makin hari makin bertambah pengalaman dalam hal mengajarnya.

4.      Menstimulasi Usaha-Usaha yang Kreatif

Yakni, kemampuan untuk menstimulir segala daya kreasi baik bagi anak-anak, orang yang dipimpinnya dan bagi dirinya sendiri.

5.      Memberikan Fasilitas dan Penilaian yang Kontinu

Penilaian terhadap setiap usaha dan program sekolah misalnya, memiliki bahan-bahan pengajaran, buku-buku pengajaran, perpustakaan, cara mengajar, kemajuan murid-muridnya harus bersifat menyeluruh dan kontinyu.

6.      Menganalisa Situasi Belajar

Situasi belajar merupakan situasi dimana semua faktor yang memberi kemungkinan bagi guru dalam memberi pengalaman belajar kepada murid untuk mencapai tujuan pendidikan.

7.      Memberi Pengetahuan dan Ketrampilan pada Setiap Anggota Staf

Supervisi berfungsi memberi stimulus dan membantu guru agar mereka memperkembangkan pengetahuan dan ketrampilan dalam belajar.

8.      Mengintegrasikan Tujuan dan Pembentukan Kemampuan

Fungsi supervisi di sini adalah membantu setiap individu, maupun kelompok agar sadar akan nilai-nilai yang akan dicapai itu, memungkinkan penyadaran akan kemampuan diri sendiri.

Fungsi supervior (pengawas) oleh karenanya menjadi penting, sebagaimana tertuang dalam Kepmen PAN Nomor 118/1996 yang menyebutkan bahwa pengawas diberikan tanggung jawab dan wewenag penuh untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan, penilaian dan pembinaan teknis serta administratif pada satuan pendidikan.


II.4. Prinsip-prinsip Dasar  Supervisi Pendidikan
Beberapa prinsip yang menjadi landasan bagi pelaksanaan supervisi klinis, adalah:

1.      Hubungan antara supervisor dengan guru, kepala sekolah dengan guru, guru dengan mahasiswa PPL adalah mitra kerja yang bersahabat dan penuh tanggung jawab.

2.      Diskusi atau pengkajian balikan bersifat demokratis dan didasarkan pada data hasil pengamatan.

3.      Bersifat interaktif, terbuka, obyektif dan tidak bersifat menyalahkan.

4.      Pelaksanaan keputusan ditetapkan atas kesepakatan bersama.

5.      Hasil tidak untuk disebarluaskan

6.      Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru, dan tetap berada di ruang lingkup pembelajaran.

7.      Prosedur pelaksanaan berupa siklus, mulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan (pengamatan) dan tahap siklus balikan.

Pancasila yang merupakan prinsip asasi merupakan landasan utama pelaksanaan tugas sebagai supervisi. Selain delapan hal diatas prinsip supervise dapat digolongkan menjadi 2 yaitu prinsip positif dan prinsip negative. Prinsip positif adalah prisip yang patut diikuti oleh seorang supervisi, sedangkan prinsip negatif merupakan prinsip yang sebaiknya dihindari.

1)      Prinsip positif

a)      Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif

b)      Supervisi bersifat kreatif dan konstruktif

c)       Supervisi harus scientific dan efekti

d)     Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman pada guru

e)      Supervisi harus berdasarkan kenyataan

f)        Supervisi harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru untuk mengadakan self-evaluation

g)      Seorang supervisor tidak boleh bersifat otoriter

h)      Seorang supervisor tidak bolah mencari kesalahan guru-guru

2)      Prinsip Negatif

a.       Tidak otoriter

b.      Tidak berasas kekuasaan

c.       Tidak lepas dari tujuan pendidikan

d.      Bukan mencari kesalahan

e.       Tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil
II.5. Tipe-Tipe Supervisi Pendidikan
1.      Tipe Otokrat

Tipe seperti ini biasanya terjadi dalam administrasi dan model kepemimpinan yang otokratis, mengutamakan pada upaya mencari kesalahan orang lain, bertindak sebagai “Inspektur” yang bertugas mengawasi pekerjaan guru.Supervisi ini dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan petugas di sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta ditentukan oleh atasannya.



2.      Tipe Laisses Faire

Tipe ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi inspeksi bawahan diawasi secara ketat dan harus menurut perintah atasan, pada supervisi Laisses Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk yang benar. Misalnya: guru boleh mengajar sebagaimana yang mereka inginkan baik pengembangan materi, pemilihan metode ataupun alat pelajaran.

3.      Tipe Coersive

Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi.Sifatnya memaksakan kehendaknya.Apa yang diperkirakannya sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak yang disupervisi tetap saja dipaksakan berlakunya. Guru sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa harus demikian. Supervisi ini mungkin masih bisa diterapkan secara tepat untuk hal-hal yang bersifat awal.Contoh supervisi yang dilakukan kepada guru yang baru mulai mengajar.Dalam keadaan demikian, apabila supervisor tidak bertindak tegas, yang disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu dan bahkan kehilangan arah yang pasti.

4.      Tipe Training dan Guidance

Tipe ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan.Hal yang positif dari supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu mendapatkan latihan dan bimbingan dari kepala sekolah.Sedangkan dari sisi negatifnya kurang adanya kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu mengembangkan diri tanpa selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya.

5.      Tipe Demokratis 

Selain kepemimpinan yang bersifat demokratis, tipe ini juga memerlukan kondisi dan situasi yang khusus.Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para anggota atau warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.


II.6. Tehnik-tehnik Supervisi Pendidikan

Teknik supervisi Pendidikan adalah atat  yang digunakan oleh supervisor untuk mencapai tujuan supervisi itu sendiri yang pada akhir dapat melakukan perbaikan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi.  Dalam pelaksanaan supervisi pendidikan, sebagai supervisor harus mengetahui dan memahami serta melaksanakan teknik – teknik dalam supervisi. Berbagai macam teknik dapat digunakan oleh supervisor dalam membantu guru meningkatkan situasi belajar mengajar, baik secara kelompok maupun secara perorangan ataupun dengan cara langsung bertatap muka dan cara tak langsung bertatap muka atau melalui media komunikasi (Sagala 2010 : 210).

Adapun teknik – teknik Supervisi adalah sebagai berikut  :

1.        Teknik Supervisi yang bersifat kelompok

Teknik Supervisi yang bersifat kelompok ialah teknik  supervisi yang dilaksanakan dalam pembinaan guru secara  bersama – sama oleh supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok (Sahertian 2008 : 86).  Teknik Supervisi yang bersifat kelompok antara lain : (Sagala 2010 : 210 - 227)

a.       Pertemuan Orientasi bagi guru baru.

Pertemuan orientasi adalah pertemuan anatar supervisor dengan supervise (Terutama guru baru) yang bertujuan menghantar supervisee memasuki suasana kerja yang baru dikutip menurut pendapat Sagala (2010 : 210) dan Sahertian (2008 : 86). Sistem kerja yang berlaku di sekolah itu.



b.      Rapat guru

Rapat Guru adalah teknik supervisi kelompok melalui rapat guru yang dilakukan untuk membicarakan proses pembelajaan, dan upaya atau cara meningkatkan profesi guru. (Pidarta 2009 : 71).

c.       Studi kelompok antar guru

Studi kelompok antara guru adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah guru yang memiliki keahlian dibidang studi tertentu, seperti MIPA, Bahasa, IPS dan sebagainya, dan dikontrol oleh supervisor agar kegiatan dimaksud tidak berubah menjadi ngobrol hal – hal yang tidak ada kaitannya dengan materi. Topik yang akan dibahas dalam kegiatan ini telah dirumuskan dan disepakati terlebih dahulu.

d.      Diskusi

Diskusi adalah pertukaran pikiran atau pendapat melalui suatu percakapan tentang suatu masalah untuk mencari alternatif pemecahannya. Diskusi merupakan salah satu teknik supervisi kelompok yang digunakan supervisor untuk mengembangkan berbagai ketrampilan pada diri para guru dalam mengatasi berbagai masalah atau kesulitan dengan cara melakukan tukar pikiran antara satu dengan yang lain. Melalui teknik ini supervisor  dapat membantu para guru untuk saling mengetahui, memahami, atau mendalami suatu permasalahan, sehingga secara bersama – sama akan berusaha mencari alternatif pemecahan masalah tersebut (Sagala 2010 : 213). 

e.        Workshop 

Workshop adalah suatu kegiatan belajar kelompok yang terjadi dari sejumlah pendidik yang sedang memecahkan masalah melalui percakapan dan bekerja secara kelompok.

f.       Tukar menukar pengalaman Tukar menukar pengalaman “Sharing of Experince” suatu teknik perjumpaan dimana guru menyampaikan pengalaman masing-masing dalam mengajar terhadap topik-topik yang sudah diajarkan, saling memberi dan menerima tanggapan dan saling belajar satu dengan yang lain.



2.      Teknik Individual dalam Supervisi 

Teknik Individual Menurut Sahertian yang dikutip oleh Sagala (2010 : 216) adalah teknik pelaksanaan supervisi yang digunakan supervisor kepada pribadi – pribadi guru guna peningkatan kualitas pengajaran disekolah. Teknik – teknik individual dalam pelaksanaan supervisi antara lain :

a.       Teknik Kunjungan kelas

Teknik kunjungan kelas adalah suatu teknik kunjungan yang dilakukan supervisor ke dalam satu kelas pada saat guru sedang mengajar dengan tujuan untuk membantu guru menghadapi masalah/kesulitan mengajar selama melaksanakan kegiatan pembelajaran.

b.      Teknik Observasi Kelas

Teknik observasi kelas dilakukan pada saat guru mengajar. Supervisor mengobservasi kelas dengan tujuan untuk memperoleh data tentang segala sesuatu yang terjadi proses belajar mengajar. Data ini sebagai dasar bagi supervisor melakukan pembinaan terhadap guru yang diobservasi.

c.       Percakapan Pribadi 

 Percakapan pribadi merupakan Dialog yang dilakukan oleh guru dan supervisornya, yang membahas tentang keluhan – keluhan atau kekurangan yang dikeluarkan oleh guru dalam bidang mengajar, di mana di sini supervisor dapat memberikan jalan keluarnya. Dalam percakapan ini supervisor berusaha menyadarkan guru akan kelebihan dan kekurangannya.

d.      Intervisitasi (mengunjungi sekolah lain)

 Teknik ini dilakukan oleh sekolah-sekolah yang masih kurang maju dengan menyuruh beberapa orang guru untuk mengunjungi sekolah – sekolah yang ternama dan maju dalam pengelolaannya untuk mengetahui kiat – kiat yang telah diambil sampai seekolah tersebut maju.

e.       Penyeleksi berbagai sumber materi untuk mengajar.  

Teknik pelaksanaan supervisi ini berkaitan dengan aspek – aspek belajar mengajar. Dalam usaha memberikan pelayanan profesional kepada guru, supervisor pendidikan akan menaruh perhatian terhadap aspek – aspek proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang efektif. supervisor harus mempunyai kemampuan menyeleksi berbagai sumber materi yang digunakan guru untuk mengajar.

f.       Menilai diri sendiri

Guru dan supervisor melihat kekurangan masing-masing yang mana ini dapat memberikan nilai tambah pada hubungan guru dan supervisor tersebut,yang akhirnya akan memberikan nilai positif bagi kegiatan belajar mengajar yang baik. Menilai diri sendiri merupakan tugas yang tidak mudah bagi guru, karena suatu pengukuran terbalik karena selama ini guru hanya menilai murid-muridnya.

II.7. Peranan Guru dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan
Seperti telah dikemukakan, supervisi pendidikan bertujuan utnuk membantu guru dalam memperbaiki proses belajar mengajar melaluyi peningkatan kompetensi guru itu sendiri dalam melaksanakan tugas profesional mengajarnya. Seperti juga berlaku untuk segala kegiatan, usaha bantuan ini tidak akan berhasil apabila tidak ada keinginan untuk bekerjasama dan tidak ada sikap kooperatif baik dari yang dibantu yaitu guru sendiri maupun supervisor. Dengan demikian peranan guru terhadap berhasil tidaknya program supervisi ini adalah sngat besar. Peranan guru dalam supervisi secara lebih rinci dapat ditelusuri dari proses pelaksanaan supervisi itu sendiri.

Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik supervise juga harus guru kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik .Meskipun tujuan akhir dari pemberian supervisi adalah tertuju pada hasil belajar siswa, namun yang diutamakan adalah bantuan kepada guru.Karena guru adalah pelaksana pendidikan

II.8. Implementasi Guru sebagai Supervisor
1.        Guru Sebagai Contoh
       Dalam The Professional Teacher, Norlander-Case, Reagen, dan Charles Case  mengungkapkan bahwa tugas mengajar merupakan profesi moral yang mesti dimiliki oleh seorang guru. Senada dengan prinsip tersebut, Zakiah Darajat menyatakan bahwa persyaratan seorang guru di samping harus memiliki kedalaman ilmu pengetahuan, ia juga bahkan mesti seorang yang bertakwa kepada Allah dan mempunyai akhlak atau berkelakuan baik.

       Hal ini berarti bahwa syarat krusial bagi seorang guru adalah kepribadiannya yang luhur, mulia, dan bermoral sehingga mampu menjadi cermin yang memantulkan semua akhlak mulia tersebut bagi seluruh murid-muridnya.  Dengan kata lain, seorang guru yang berkepribadian mulia adalah seorang guru yang mampu memberi keteladanan bagi murid-muridnya.

       Sebab, secara sederhana mudah dipahami bahwa guru yang tidak bertakwa sangat sulit atau tidak mungkin bisa mendidik murid-muridnya menjelma orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Begitu pula para guru yang tidak memiliki akhlak yang mulia atau budi pekerti yang luhur tidak akan mungkin mampu mendidik siswa-siswa mereka menjadi orang-orang yang berakhlak mulia.

       Guru sebagai contoh bagi murid-muridnya harus memiliki sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan tokoh panutan idola dalam seluruh aspek kehidupannya. Dalam paradigma sebagian pakar pendidikan, kepribadian seorang guru tersebut meliputi:

Ø  kemampuan mengembangkan kepribadian

Ø  kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara arif bijaksana

Ø  kemampuan melaksanakan bimbingan dan penyuluhan.

       Kompetensi kepribadian terkait pula dengan penampilan sosok guru sebagai individu yang mempunyai kedisiplinan, berpenampilan baik, bertanggungjawab, memiliki komitmen, dan menjadi teladan.

       Menjadi seorang guru yang mampu memberi contoh mengartikan bahwa jabatan guru sebagai pilihan utama yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam.

2.        Guru sebagai Proses Sharing Of Ideas
Guru sebagai Sharing of ideas mengartikan bahwa guru mempunyai bagian dalam membicarakan pandangan ke depan tentang kemajuan sekolah. Misalnya dalam penentuan metode mengajar yang cocok, media yang digunakan, dan semua unsure dalam menunjang proses belajar.

3.             Guru Dalam Merancang Supervisi Klinis
       Johan J. Bolla ( 1985 : 19 ) mengatakan bahwa,  supervisiklinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan profesional guru dalam pelaksanaan proses pemelajaran. Bimbingan diarahkan pada upaya pemberdayaan guru dalam menguasai aspek teknis pemelajaran. Dengan bimbingan tersebut diharapkan terjadi peningkatan kualitas pemelajaran.

             Pelaksanaan supervisiklinis menuntut perobahan paradigma guru dan supervisor. Supervisi dilakukan bukan dalam kontek mencari kesalahan dan kelemahan guru yang di supervisi. Antara guru yang disupervisi dengan supervisor adalah mitra sejajar, bukan merupakan hubungan antara bawahan dan atasan dan atau hubungan antara guru dengan murid. Secara kemitraan keduanya menganalisis proses pemelajaran yang telah dirancang dan disepakati, kemudian dicarikan alternatif pemecahan permasalah yang ditemui dalam proses pemelajaran tersebut agar dapat ditingkatkan kualitasnya.






























BAB III
PENUTUP
III.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat penulis ambil dalam penulisan makalah ini adalah :

1.      serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan profesional yangdiberikan oleh supervisor ( Pengawas sekolah, kepala sekolah, dan pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar.

2.      Menurut Mulyasa (2002) merumuskan tujuan supervisi sebagai bantuan dan kemudahan yang diberikan pada guru untuk belajar bagaimana meningkatkan kemampuan mereka guna mewujudkan tujuan belajar.

3.      Secara umum sasarannya adalah proses pembelajaran peserta didik dengan tujuan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Secara khusus dapat diklasifikasikan: Sasaran administratif (teknis administratif) misal perangkat pembelajaran, meliputi administrasi personal, material, keuangan serta administrasi sarana dan prasarana pendidikan; Sasaran edukatif (teknis edukatif) misal pelaksanaan pembelajaran, kegiatan yang meliputi kurikulum, PBM dan evaluasi; dan Sasaran lembaga, yaitu ditujukan pada keseluruhan aktifitas sekolah.

4.      Seorang supervisior dapat dilihat dari tugas yang dikerjakannya. Seorang pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor tampak jelas perannya. Sesuai dengan pengertian hakiki supervisi, maka supervisi berperan atau bertugas memberi support (supporting), membantu (assisting) dan mengikutsertakan (sharing). Secara umum fungsi supervisi adalah perbaikan pengajaran.

5.      Pancasila yang merupakan prinsip asasi merupakan landasan utama pelaksanaan tugas sebagai supervisi. Selain delapan hal diatas prinsip supervise dapat digolongkan menjadi 2 yaitu prinsip positif dan prinsip negative. Prinsip positif adalah prisip yang patut diikuti oleh seorang supervisi, sedangkan prinsip negatif merupakan prinsip yang sebaiknya dihindari.

6.      Tipe-tipe Supervisi pendidikan : Tipe Otokrat, Tipe Laisses Faire, Tipe Coersive, Tipe Training dan Guidance, dan Tipe Demokratis 

7.      Tehnik-tehnik supervisi secara umum yaitu tehnik supervisi yang bersifat kelompok dan tehnik supervisi bersifat individual.

8.      Implementasi guru sebagai supervisor yaitu guru sebagai contoh, guru sebagai proses sharing of ideas, dan guru dalam merancang supervisi klinis.

III.2. Saran
Topik makalah ini penting untuk calon seorang guru, sehingga penulis berharap, pembaca dapat memahami isi dari makalah ini dengan sebaik-baiknya.Dengan adanya makalah ini, penulis berharap pembaca bisa mengambil hal-hal penting dari makalah ini sehingga ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari makalah ini dapat disampaikan ke yang lainnya.

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, jangan hanya mengandalkan sumber atau referensi dari makalah ini. Pembaca juga harus mencari sumber lain yang mendukung pembahasan topik makalah ini sehingga akan dapat menambah pengetahuan pembaca.












DAFTAR PUSTAKA








 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar