MAKALAH
SUPERVISI PENDIDIKAN dan SIMULASI SUPERVISI PENDIDIKAN
(Diajukan Untuk Memenuhi Salah
Satu Mata Kulia
Profesi Kenpendidikan)
Profesi Kenpendidikan)
Dosen Pengampu :
Dr. H. Djadjang Sofwan Haris, S.H., M.Pd.
Dr. H. Djadjang Sofwan Haris, S.H., M.Pd.
Oleh :
S RAHAYU RAHMAWATI
LEISUBUN
GHIYAS DWI MAHARANI
RESTU NUR CAHYANI
ICHA AMALIA
ISNAN WIRANURSEHA
ISNAN WIRANURSEHA
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA\
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SURYAKANCANA
CIANJUR
2014
UNIVERSITAS SURYAKANCANA
CIANJUR
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa karena dengan petunjuk, rahmat, dan berkahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Makalah dengan Berjudul “ Supervisi Pendidikan dan Simulasi
Supervisi Pendidikan”
dari Mata Kuliah Profesi Kependidikan.
Selesainya tugas ini tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih kepada :
1.
Dosen pengajar mata kuliah.
2.
Teman-teman dan semua pihak yang
berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Dengan
penuh kesadaran hati, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini
sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis mengharapkan semoga makalah ini
bermanfaat bagi almamater, teman-teman, maupun siapa saja yang berkenan
membacanya.
Cianjur, 21
September 2014
Kelompok
VII
DAFTAR ISI
Lembar Judul .............................................................................................. i
Kata Pengantar ............................................................................................ ii
Daftar Isi ..................................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah....................................................................... 1
1.2.Rumusan Masalah ................................................................................. 1
1.3. Tujuan Penulisan .................................................................................. 2
BAB II: PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Simulasi............................................................................... 4
2.2. Instrumen
Penilaian............................................................................... 4
2.3. Format
Penilaian................................................................................... 13
2.4. Pedoman
Penilaian ............................................................................... 14
BAB III : PENUTUP
3.1. Kesimpulan .......................................................................................... 16
3.2. Saran..................................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Pusat Bahasa
Depdiknas (2005) simulasi adalah satu metode pelatihan yang memperagakan
sesuatu dalam bentuk tiruan (imakan) yang mirip dengan keadaan yang
sesungguhnya; simulasi: penggambaran suatu sistem atau proses dengan peragaan
memakai model statistic atau pemeran.
Udin
Syaefudin Sa’ud (2005: 129) simulasi adalah sebuah replikasi atau visualisasi
dari perilaku sebuah sistem, misalnya sebuah perencanaan pendidikan, yang
berjalan pada kurun waktu yang tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa simulasi
itu adalah sebuah model yang berisi seperangkat variabel yang menampilkan ciri
utama dari sistem kehidupan yang sebenarnya. Simulasi memungkinkan
keputusan-keputusan yang menentukan bagaimana ciri-ciri utama itu bisa dimodifikasi
secara nyata.
Sri
Anitah, W. DKK (2007: 5.22) metode simulasi merupakan salah satu metode
pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok. Proses
pembelajaran yang menggunakan metode simulasi cenderung objeknya bukan benda
atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar yang bersifat
pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada kelas tinggi di
sekolah dasar.
Dalam pembelajaran yang menggunakan metode simulasi, siswa
dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan
berkomunikasi dalam kelompok. Di samping itu, dalam metode simulasi siswa
diajak untuk dapat bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
1.2. Rumusan
Masalah
Adapun masalah yang akan di bahas dalam
makalah ini yaitu :
1.
Apa itu
simulasi supervisi pendidikan?
2.
Bagaimana
proses pembinaan dari simulasi supervisi pendidikan tersebut?
3.
Apa saja jenis
simulasi supervisi pendidikan tersebut?
3. Tujuan
Penulisan
1.
Untuk mengetahui
pengertian simulasi pendidikan.
2.
Untuk
mengetahui proses pembinaan dari simulasi supervisi pendidikan tersebut.
3.
Untuk
mengetahui jenis-jenis simulasi supervisi pendidikan tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Simulasi
Kata simulasi berasal dari kata bahasa Inggris yaitu simulation yang berarti pekerjaan tiruan/menirukan. Metode simulasi adalah metode belajar mengajar dengan cara menirukan situasi tiruan untuk memahami konsep, prinsip atau ketrampilan tertentu. Metode ini digunakan sebagai asumsi bahwa tidak semua proses pembelajaran bisa dilakukan secara langsung pada obyek yang sebenarnya. Metode simulasi terbagi menjadi beberapa jenis metode,diantaranya adalah sebagai berikut :
Kata simulasi berasal dari kata bahasa Inggris yaitu simulation yang berarti pekerjaan tiruan/menirukan. Metode simulasi adalah metode belajar mengajar dengan cara menirukan situasi tiruan untuk memahami konsep, prinsip atau ketrampilan tertentu. Metode ini digunakan sebagai asumsi bahwa tidak semua proses pembelajaran bisa dilakukan secara langsung pada obyek yang sebenarnya. Metode simulasi terbagi menjadi beberapa jenis metode,diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Sosiodrama
Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antar manusia.
Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antar manusia.
2. Psikodrama
Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis. Metode ini biasanya digunakan untuk terapi agar murid memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya.
Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis. Metode ini biasanya digunakan untuk terapi agar murid memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya.
3. Role playing
Role playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran
sebagai bagian simulasi yang menekankan keikutsertaan murid untuk menirukan
masalah-masalah situasi sosial. Metode ini sering digunakan untuk kalangan
anak-anak usia
dini.
dini.
4. Langkah-langkah dalam
menggunakan metode simulasi:
1) Langkah persiapan
a. Menetapkan topik atau masalah serta tujuan
yang hendak
dicapai.
b. Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang
akan disimulasikan.
dicapai.
b. Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang
akan disimulasikan.
c. Guru menetapkan
pemain yang terlibat dalam simulasi,
peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta
waktu yang disediakan.
peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta
waktu yang disediakan.
d. Memberikan kesempatan
kepada murid untuk bertanya
khususnya yang terlibat dalam pemeran simulsi.
khususnya yang terlibat dalam pemeran simulsi.
2) Langkah pelaksanaan
a. Simulasi
mulai dimainkan oleh pemeran.
b.
Para murid
lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.
c.
Guru memberikan
bantuan kepada para pemeran yang
mempunyai kesulitan.
mempunyai kesulitan.
d.
Simulasi hendaknya berhenti pada saat puncak.
Hal ini
dimaksudkan untuk mendorong para murid untuk berfikir
dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.
dimaksudkan untuk mendorong para murid untuk berfikir
dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.
3)
Langkah penutup.
a.
Melakukan dialog baik tentang jalannya
simulasi maupun
materi cerita yang disimulasikan.
materi cerita yang disimulasikan.
b.
Memberi
kesimpulan dari apa yang telah disimulasikan.
2.2. Instrumen
Penilaian
Instrumen adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk
mengukur dalam rangka pengumpulan data, yang memenuhi persyaratan akademis,
sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau
mengumpulkan data mengenai suatu variable. Dalam bidang pendidikan instrument
digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa, factor-faktor yang diduga
mempunyai hubungan atau berpengaruh terhadap hasil belajar, perkembangan hasil
belajar siswa, keberhasilan proses belajar mengajar guru, dan keberhasilan
pencapaian suatu program tertentu. Maka dapat disimpulkan bahwa instrumen
penilaian ialah “alat ukur yang digunakan
untuk menilai sesuatu yang bertujuan untuk mengumpulkan data guna memperoleh
informasi yang diinginkan oleh seseorang”. Dalam dunia pendidikan instrumen
penilaian ini digunakan untuk menilai pogram pendidikan yang telah dirancang
oleh seorang guru. Selain itu, instrumen penilaian ini juga digunakan untuk
mengukur kemampuan siswa dalam menguasai materi yang disampaikan oleh guru.
Dengan melakukan penilaian maka guru akan mengetahui kemajuan yang terjadi
dalam diri seorang siswa.
Instrumen penilaian yang dibuat sebagai alat ukur harus
sesuai dengan materi yang disampaikan dan dapat memenuhi aspek penilaian yang
diharapkan. Aspek penilaian ini meliputi penilaian kemampuan siswa dalam
menguasai materi, penilaian sikap siswa, dan juga penilaian keterampilan siswa.
Semua aspek penilaian ini dilakukan pada setiap kegiatan pembelajaran, hanya
saja penekanan pada setiap aspek berbeda.
1.
Kompetensi: Menggunakan Metode, Media dan Bahasa Latihan Sesuai dengan Tujuan
Pengajaran
Indikator
Kompetensi:
a.
Menggunakan metode mengajar sesuaidengan tujuan, siswa, lingkungan dan
perubahan situasi.
b.
Menggunakan peralatan pengajaran dan alt bantu lain yang sesuai dengan tujuan.
c.
Menggunakan dengan tepat bahan latihan pengajaran sesuai dengan tujuan.
2.
Kompetensi: Berkomuniksasi dengan siswa Indikator Kompetensi:
a.
Memberi petunjuk dan penjelasan yang berkaitan dengan isi pelajaran
b.
Mengklasifikasi petunjuk dan penjelasan apabila siswasalah mengerti
c.
Menggunakan respon dan pertanyaan siswa dalam pengajaran
d.
Menggunakan ekspresi lisan atau tertulis yang dapat ditangkap oleh siswa
e.
Menutuppelajaran
3.
Kompetensi Mendemontrasikan Khasanah Metode Mengajar
Indikator
Kompetensi:
a.
Mengimplementasikan kegiatan belajar dalam urutan yang logis
b.
Mendemontrasikan kemampuan mengajar dengan menggunakan barbagai metode
c. Mendemontrasikan
kemampuan mengajar secara individual atau secara kelompok
4.
Kompetensi: mendorong dan Mengalakkan Ketertiban Siswa dalam Pengajaran
Indikator
Kompetensi:
a.
Mengunakan prosedur yang melibatkan siswa pada awal pelajaran
b.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi
c.
Memelihara keterlibatan siswa dalam pelajaran
d.
Menguatkan upaya siswa untuk memelihara ketertiba
5.
Kompetensi: Mendemontrasiakn Penguasaan Mata Pelajaran dan Relevasinya
Indikator
Kompetensi:
a.
Membantu siswa mengenai maksud dan pentingnya topik
b.
Mendeontrasiakn penguasaan pengetahuan dalam mata pelajaran yang diajarkan
6.
Kompetensi: MengorganisasiWaktu, Ruang, Bahan, dan perlengkapan Pengajaran Indikator
Kompetensi:
a.
Melaksanakan tugas-tugas rutin
b.
Menggunakan waktu pengajaran secara efisien
c.
Menyediakan lingkungan belajar yang menarik dan teratu
7.
Kompetensi: melaksanakan Evaluasi Prestasi Siswa dalm Proses Belajar Mengajar Indikator
Kompetensi:
a.
Melakukan penilaian selama proses belajar mengajar berlangsung
b.
Mendemontrasiakn kemampuan menlai baik dengan lisan, tertulis maupun dengan
pengamatan
c.
Menafsirkan hasil penilaian dalam proses belajar mengajar dan mengkomunikasikan
kepada siswa
Pengertian instrumen dalam lingkup evaluasi didefinisikan
sebagai perangkat untuk mengukur hasil belajar siswa yang mencakup hasil
belajar dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Bentuk instrumen dapat
berupa tes dan non-tes. Instrumen bentuk tes mencakup tes uraian (uraian objektif dan uraian bebas),
tes pilihan ganda, jawaban singkat, menjodohkan, benar salah, unjuk kerja
(performance test), dan portofolio. Instrumen bentuk non-tes mencakup wawancara,
angket, dan pengamatan(observasi). Instrumen Evaluasi yang baik memiliki
ciri-ciri dan harus memenuhi beberapa kaidah antara lain Validitas,
Reliabilitas, Objectivitas, Pratikabilitas, Ekomonis, Taraf Kesukaran, dan daya
pembeda. Instrumen dapat dibagi menjadi dua teknik yaitu tes dan non test.
1. Tes
a.
Pengertian
Sebelum sampai pada uraian yang lebih jauh, maka
akan diterangkan dahulu arti dari beberapa istilah-istilah yang berhubungan
dengan tes ini :
1)
Tes
Tes merupakan prosedur yang digunakan untuk
mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan
yang sudah ditentukan.
2)
Testing
Testing merupakan saat pada waktu tes itu
dilaksanakan. Dapat juga dikatakan testing adalah saat pengambilan tes.
3)
Testee
Testee adalah merupakan responden yang sedang
mengerjakan tes.
4)
Tester
Tester adalah orang yang melaksanakan pengambilan
tes terhadap responden. Dengan kata lain, tester adalah subjek evaluasi
(tetapi adakalanya hanya orang yang ditunjuk oleh subjek evaluasi untuk
melaksanakan tugasnya).
Adapun tugas
tester antara lain adalah :
a)
Mempersiapkan ruangan dan perlengkapan yang diperlukan.
b)
Membagikan lembaran tes dan alat-alat lain untuk mengerjakan.
c)
Menerangkan cara mengerjakan tes.
d)
Mengawasi responden mengerjakan tes.
e)
Memberikan tanda-tanda waktu.
f)
Mengumpulkan pekerjaan responden.
g)
Mengisi berita acara atau laporan yang diperlukan.
Istilah
‘tes’ diambil dari kata testum suatu
pengertian dalam bahasa Prancis kuno yang berarti untuk menyisihkan logam-logam
mulia atau ukuran untuk membedakan emas, perak dan logam lainnya. Ada pula yang
mengartikan sebagai sebuah piring yang dibuat dari tanah. Dalam konteks Indonesia, ‘piring’yang
dimaksud dapat diartikan sebagai penampi; alat untuk menampi seperti nyiru dan
badang, yang digunakan untuk membersihkan/menampi
(beras, padi,kedelai,dsb). Jadi, secara etimologis tes berarti suatu “alat”yang digunakan untuk memisahkan
atau membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain.
Norman
(dalam Djaali dan Muljono,2008) mengemukakan bahwa tes merupakan salah satu
prosedur evaluasi yang komperemsif , sistematik, dan obyektif yang hasilnya
dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan dalam proses pengajaran yang
dilakukan oleh guru. Selanjutnya, Cronbach (1984) mendefinisikaan tes sebagai
suatu prosedur yang sistematis untu mengamati dan mendeskripsikan satu aatau
lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan standar numeric atau system
kategori. Dalam penelitian pendidikan, lazim ditemui pengumpulan data melalui
tes. Adapun yang dimaksud dengan test ialah:
“Test are valuable measuring instruments for educational research. A test is a set of stimuli presented to an individual in order to elicit responses om the basis of which a numerical score can be assigned”. (Ary, Donald, 1985).
“Test are valuable measuring instruments for educational research. A test is a set of stimuli presented to an individual in order to elicit responses om the basis of which a numerical score can be assigned”. (Ary, Donald, 1985).
Berdasarkan
batasan Donald Ary yang tertera di atas, menunjukkan bahwa tes merupakan bagian
penting dalam penelitian pendidikan. Di samping itu pula,test merupakan
instrumen prinsip guna mengukur “human performance”, sehingga sering
dikatakan sebagai pengukur paling prinsip “behavior” dari sampel (Moore,
Gary W., 1983).
b.
Fungsi Tes
Secara umum ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh
tes, yaitu :
1). Sebagai alat pengukur terhadap anak didik.
2). Sebagai alat pengukur keberhasilan program
pengajaran.
Beberapa
fungsi tes diantaranya:
a.
Sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa dengan maksud untuk mengukur
tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai siswa setelah menempuh
proses belajar-mengajar dalam jangka waktu tertentu.
b.
Sebagai motivator dalam pembelajaran, dengan adanya nilai sebagai umpan balik
diharapkan meningkatnya intensitas kegiatan belajar. Fungsi ini dapat optimal
apabila nilai hasil tes yang diperoleh siswa betul-betul obyektif dan sahih,
baik secara internal maupun secara eksternal yangb dapat dirasakan langsung
oleh siswa yang diberi nilai melaui tes.
c.
Berfungsi untuk upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan
melalui tes penempatan, tes diagnostic dan tes formatif.
d.
Untuk menentukan barhasil atau tidaknya siswa sebagai syarat untuk menentukan
berhasil atau tidaknya siswa sebagai syarat untuk melanjutkan pendidikan pada
jenjang yang lebih tinggi.
c.
Penggolongan Tes
Djaali
dan Muljono menggolongkan tes menjadi 6 golongan yang berbeda yaitu:
1). Berdasarkan fungsinya, tes
dibedakan menjadi 5 golongan yaitu :
a.
Tes Awal (Pre-Test); bertujuan untuk mengetahui sejauh mana materi
pelajaran yang akan diajarkan telah diketahui oleh siswa.
b. Tes Akhir (Post -Test);
bertujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang penting telah
dikuasai dengan baik oleh siswa.
c.
Penempatan (Placement
Test)
Tes jenis ini dilakukan pada awal tahun ajaran untuk
mengetahui tingkat kemampuan peserta didik sehubungan dengan pelajaran yang akan
disajikan. Dengan demikian peserta didik dapat ditempatkan pada kelompok yang
tepat, misalnya pada kelompok atas, sedang atau yang lain. Penilaian demikian
biasanya menggunakan tes yang disusun dalam lingkup yang luas dan tingkat
kesukaran yang bervariasi agar dapat membedakan peserta didik yang sudah atau
belum menguasi pelajaran/standar kompetensi tertentu.
d.
Formatif (Formative Test)
Tes formatif dilaksanakan saat pembelajaran sedang
berlangsung. Hal demikian untuk memantau kemajuan belajar peserta didik agar
dapat memberikan umpan balik baik bagi guru maupun pada peserta didik sendiri.
Guru dapat melihat apakah metode atau media yang digunakan sudah tepat
untuk pencapaian tujuan pembelajaran bagi peserta didik.Tes formatif
biasanya mengacu pada kriteria tertentu yaitu tercapainya tujuan, sedangkan
pada tes penempatan mengacu pada norma tertentu yaitu norma kelompok.
e.
Diagnostik (Diagnostic Test)
Tes diagnostik bertujuan untuk mendiagnose kesulitan belajar
peserta didik. Karena tujuannya mendiagnose kesulitan belajar maka harus lebih
dahulu diberikan tes formatif untuk mengetahui ada tidaknya bagian yang belum
dikuasai. Setelah diketahui ada bagian yang belum dikuasai maka dibuatkan
butir-butir soal yang lebih memusat pada bagian itu untuk dapat mendeteksi
bagian mana pada pokok bahasan atau subpokok bahasan yang belum dikuasai. Untuk
tiap unit dibuatkan beberapa soal yang tingkat kesukarannya relatif rendah,
Tujuannya agar dapat diketahui bahwa unit tertentu belum dikuasai sehingga soal-soal
tidak dapat diselesaikan meskipun soalnya mudah.
f.
Sumatif (Summative Test)
Tes sumatif dapat mempunyai makna yang sempit sampai yang
meluas. Tes sumatif dapat berarti tes yang diberikan pada akhir pokok bahasan,
akhir semester, akhir tahun ajaran atau pada akhir jenjang atau program
tertentu. Dalam makna sebagai tes akhir tahun ajaran atau jenjang pendidikan
tes sumatif dimaksudkan untuk memberikan nilai yang menjadi dasar
penentuan kelulusan atau pemberian sertifikat kepada peserta didik. Oleh karena
itu tes tersebut biasanya disusun dalam lingkup yang luas mencakup semua pokok
bahasan yang telah dipelajari dan dengan tingkat kesukaran yang bervariasi.
2. Berdasarkan aspek sikis yang
diungkap, dibedakan menjadi 5 golongan yaitu:
a. Tes
Intelegensi (Intelegency test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengungkap atau memprediksi tingkat kecerdsan seseorang.
b. Tes Kemampuan (Aptitude test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh
peserta tes.
c. Tes Sikap (Atitude test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengungkap pre-disposisi atau kecenderungan seseorang untuk
melakukan suatu respon terhadap obyek yang disikapi.
d. Tes Kepribadian (Personally Test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengungkap cirri-ciri khas dari seseorang yang bersifat lahiriah
seperti bentuk tubuh, cara bergaul dan cara mengatasi masalah.
e.
Tes Hasil Belajar (Achievement test) yaitu tes yang dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengungkap tingkat pencapaian terhadap tujuan pembelajaran atau
prestasi belajar.
1.
Berdasarkan Peserta, dibedakan menjadi dua golongan:
a. Tes
Individual (Individual Test) yaitu tes dimana pelaksana hanya berhadapan dengan satu
orang peserta saja
b. Tes
Kelompok (Group Test) yaitu
tes dimana pelaksana hanya berhadapan dengan lebih dari satu orang peserta.
2.
Berdasarkan Waktu, dibedakan menjadi dua golongan:
a.
Power test yaitu tes dimana waktu yang disediakan bagi
peserta tidak dibatasi
b.
Speed test yaitu
tes dimana waktu yang disediakan bagi peserta dibatasi, biasanya singkat dan
hanya siswa pandai saja yang dapat menyelesaikan tes sesuai dengan waktu yang
ditentukan.
3.
Berdasarkan cara merespon, dibedakan menjadi dua golongan:
a. Tes
Verbal yaitu tes
yang menghendaki jawaban yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau
kalimat.
b. Tes
Non-verbal yaitu
tes yang menghendaki jawaban peserta tes bukan dalam bentuk ungkapan kata-kata
atau kalimat melainkan berupa tingkah laku.
4.
Berdasarkan cara mengajukan pertanyan, dibedakan menjadi tiga golongan:
a. Tes
Tertulis (Pencil and Paper Test)
yaitu tes dimana pelaksana tes dalam
mengajukan butir-butir
pertanyaannya
dilakukan secara tertulis dan peserta tes memberikan jawaban tertulis juga.
b. Tes Tidak Tertulis (non-Pencil and Paper Test) yaitu tes dimana pelaksana tes
dalam mengajukan butir –butir pertanyaannnya dilakukan secara tidak tertulis
/lisan dan peserta tes memberikan jawaban dengan lisan juga.
c.
Tes Perbuatan yang diberikan dalam bentuk tuga satau
instruksi kemudian peserta tes mengerjakan tugas sesuai instruksi tersebut dan
hanya dinilai oleh pemberi tes.
1.
Non Tes
Untuk menilai aspek tingkah laku,
jenis non tes lebih sesuai dipergunakan sebagai alat penilaian. Alat penilaian
jenis non tes ini antara lain :
1.
Observasi yakni pengamatan tingkah laku pada situasi tertentu
2.
Wawancara yakni berkomunikasi langsung antara yang menginterviewdan yang di
interview. Untuk memudahkan pelaksanaannya perlu disediakan pedoman wawancara
berupa pokok-pokok yang ditanyakan
3.
Studi kasus yaitu mempelajari individu dalam periode tertentu secara terus
menerus untuk melihat perkembangannya
4.
Skala penilaian merupakan salah satu alat penilaian yang mempergunakan skala
yang telah disusun dari ujung yang negatif sampai pada ujung yang positif
sehingga pada skala tersebut penilaian tinggal membubuhi tanda cek saja
5.
Chek list sebenarnya hampir menyerupai skala penilaian, hanya pada skala ini
tidak perlu disusun kriteria dari negatif sampai positif. Cukup dengan
kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan diminta dari yang dinilai
6.
Inventori yaitu “pertanyakan” dimana yang ditanya tinggal memilih alternatif
jawaban, apakah “setuju” atau “tidak setuju”. Bentuk non tes ini adalah untuk
mengetahui sikap yang dimiliki para pelajar setelah menyelesaikan program
bidang studi.
2.3.Format Penilaian
Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar Peserta Didik dengan kata lain Penilaian
merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan
data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam
pengambilan keputusan.[1][3]
Format
Penilaian dalam pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi
peserta didik pada semua mata pelajaran.
1. Kegiatan
penilaian meliputi: Penentuan KKM setiap mata pelajaran dengan harus
memperhatikan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan
kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik.
2.
Pengkoordinasian ulangan yang terdiri atas ulangan tengah semester, ulangan
akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
3.
Penentuan kriteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan
sistem paket melalui rapat dewan pendidik, atau penentuan kriteria program
pembelajaran bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem kredit semester
melalui rapat dewan pendidik.
4.
Penentuan nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata
pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan melalui rapat dewan pendidik dengan
mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik.
5.
Penentuan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan
kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui rapat
dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik dan nilai
hasil ujian sekolah/madrasah.
6.
Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah dan penentuan kelulusan peserta didik
dari Ujian Sekolah/Madrasah sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah bagi
satuan pendidikan penyelenggara ujian sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah.
7.
Penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan
pendidik sesuai dengan kriteria:
a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran,
b.
memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh matapelajaran
kelompok mata pelajaran
agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
c.
lulus Ujian Sekolah/Madrasah, dan
d.
lulus Ujian Nasional.
2.4.Pedoman Penilaian
Tujuan dan Fungsi Penyusunan Pedoman Penilaian.
Pedoman Penilaian ini disusun dengan tujuan agar para
pendidik dapat melaksanakan penilaian
yang meliputi perencanaan, penyiapan bahan, penyelenggaraan,
pemeriksaan hasil penilaian, pengolahan, analisis, dan pemanfaatan hasil penilaian serta penyusunan laporan
pembelajaran yang sesuai dengan prinsip/teknik penilaian dan tuntutan standar
isi serta standar kompetensi lulusan. Pedoman
Penilaian ini dapat berfungsi sebagai acuan pendidik dalam melaksanakan
penilaian pencapaian kompetensi peserta didik,
laporan kemajuan hasil belajar, dan perbaikan proses pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Dalam pembelajaran yang menggunakan metode simulasi, siswa
dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan
berkomunikasi dalam kelompok. Di samping itu, dalam metode simulasi siswa
diajak untuk dapat bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
3.2. Saran
Dari
kesimpulan yang dijabarkan diatas, maka dapat diberikan saran antara lain:
1.
Guru sebagai profesi yang sangat penting dalam dunia pendidikan harus
meningkatkan kemampuannya untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada
masyarakat.
2. Dalam proses profesionalisasi, seorang guru
tidak hanya terletak dalam masa-masa persiapan, tetapi juga dalam pembinaan dan
cara-cara pelaksanaan tugas sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Sutarsih, Cicih dan Nurdin.
(2010). Pengelolaan Pendidikan : Bab 14. Supervisi Pendidikan. Bandung :
Uttoko.(2011). Teknik-Teknik
Supervisi Kelompok. (diakses di http://kanguut.blogspot.com/2012/05/teknik-teknik-supervisi-kelompok.html
Kurniadi, Dedi Ahmad. Supervisi
Pendidikan. (diakses di http://file.upi.edu
Kurosaki, Muhammad Nur. Supervisi Pendidikan. http://nurkurosaki.blogspot.com/2012/02/supervisi-pendidikan.html
Kurosaki, Muhammad Nur. Supervisi Pendidikan. http://nurkurosaki.blogspot.com/2012/02/supervisi-pendidikan.html
MAKALAH SUPERVISI PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Dalam perkembangannya, pengawas
satuan pendidikan lebih diarahkan untuk memiliki serta memahami bahkan
dituntut untuk dapat mengamalkan apa yang tertuangdalam peraturan menteri
tentang kepengawasan. Tuntutan tersebut salah satunya tentang kompetensi dalam
memahami metode dan teknik dalam supervisi. Seorang supervisor adalah
orang yang profesional ketika menjalankan tugasnya, ia bertindak atas
dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Guru adalah salah satu komponen
sumber daya pendidikan memerlukan pelayanan supervisi. Pentingnya bantuan
supervisi pendidikan terhadap guru berakar mendalam dalam kehidupan
masyuarakat. Untuk menjalankan supervisi diperlukan kelebihan yang dapat
melihat dengan tajam terhadap permasalahan dalam peningkatan mutu
pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar
menggunakan penglihatan mata biasa, sebab yang diamatinya bukanmasalah kongkrit
yang tampak, melainkan memerlukan kepekaan
mata batin.
Seorang supervisor membina peningkatan mutu akademik
yang berhubungandengan usaha-usaha
menciptakan kondisi belajar yang lebih baik berupa aspek akademis, bukan
masalah fisik material semata.Ketika supervisi dihadapkan pada kinerja
dan pengawasan mutu pendidikan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu
memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Hal ini
bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam
mengembangkan mutu kelembagaan pendidikandan memfasilitasi kepala sekolah agar
dapat melakukan pengelolaan kelembagaan secaraefektif dan efisien.
I.2. Rumusan
Masalah
Adapun masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini
yaitu :
1.
Apakah pengertian supervisi pendidikan?
2.
Apa sajakah tujuan dan sasaran supervisi pendidikan?
3.
Bagaimanakah fungsi supervisi pendidikan?
4. Apakah prinsip dasar supervisi?
5.
Apa sajakah tipe supervisi pendidikan?
6.
Apa sajakah tehnik-tehnik yang digunakan dalam supervisi pendidikan?
7.
Bagaimanakah peranan guru dalam pelaksanaan supervisi pendidikan?
8.
Bagaimanakah implementasi guru sebagai supervisor?
II.3. Tujuan
Adapun
tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk menjelaskan
pengertian supervisi pendidikan.
2. Untuk menjelaskan tujuan
dan sasaran supervisi pendidikan.
3. Menjelaskan fungsi
supervisi.
4. Untuk menjelaskan
prinsip-prinsip supervisi pendidikan.
5. Menjelaskan tipe-tipe
supervisi pendidikan.
6. Untuk menjelaskan
tehnik-tehnik supervisi pendidikan.
7. Guna menjelaskan peranan
guru dalam pelaksanaan supervisi pendidikan.
8. Untuk menjelaskan
implementasi guru sebagai supervisor.
MAKALAH SUPERVISI PENDIDIKAN
BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Pengertian Supervisi Pendidikan
Dilihat dari sudut etimologi “supervisi” berasal dari kata “super”
dan “vision” yang masing-masing kata itu berarti atas dan penglihatan. Jadi
supervisi pendidikan dapat diartikan sebagai penglihatan dari atas. Melihat
dalam hubungannya dengan masalah supervisi dapat diartikan dengan menilik,
mengontrol, atau mengawasi.
Supervisi
ialah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat
meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar-mengajar yang lebih
baik. Orang yang melakukan supervisi disebut dengan supervisor.
Dalam
Dictionary of Education, Good Carter (1959) memberikan pengertian bahwa
supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru
dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk
menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru,
merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran, metode, dan evaluasi
pengajaran (Sahertian,2008: 17).
Konsep supervisi modern dirumuskan
oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut :“Supervision is assistance in the
devolepment of a better teaching learning situation”. Supervisi adalah bantuan
dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini
mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar
mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment).
Supervisi
pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah
perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan
belajar dan belajar pada khususnya.Supervisi dapat kita artikan sebagai
pembinaan. Sedangkan sasaran pembinaan tersebut bisa untuk kepala sekolah,
guru, pegawai tata usaha. Namun yang menjadi sasaran supervisi diartikan pula pembinaan guru. Menurut keputusan mentri pendidikan dan kebudayaan nomor
0134/0/1977, temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala
sekolah, penelik sekolah, dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya,
serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.Salah satu tugas pengawas
dengan perincian sebagai berikut :“mangendalikan pelaksanaan kurikulum meliputi
isi, metode penyajian, penggunaan alat perlengkapan dan penilaian agar sesuai
dengan ketentuan dan peraturan perudangan yang berlaku”.
II.2. Tujuan dan
Sasaran Supervisi Pendidikan
A.
Tujuan
supervisi pendidikan
Adapun
tujuan supervisi
pendidikan dapat dirinci sebagai berikut :
1. Meningkatkan efektivitas
dan efisiensi proses belajar mengajar.
2. Mengendalikan
penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan dan
kebijakan yang telah ditetapkan.
3. Menjamin agar kegiatan
sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga berjalan
lancar dan berhasil secara optimal.
4. Menilai keberhasilan
sekolah dalam pelaksanaan tugasnya.
5. Memberikan bimbingan
langsung untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan, serta membantu memecahkan
masalah yang dihadapi sekolah sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh.
Menurut
Mulyasa (2002) merumuskan tujuan supervisi sebagai bantuan dan kemudahan yang
diberikan pada guru untuk belajar bagaimana meningkatkan kemampuan mereka guna
mewujudkan tujuan belajar. Dengan supervise diharapkan kegiatan belajar
mengajar jadi lebih baik.
Sahertian (1981) mengemukakan tujuan supervisi
adalah :
1) membantu guru melihat
dengan jelas tujuan pendidikan
2) membantu guru dalam
membimbing pengalaman belajar murid
3) membantu guru dalam
menggunakan sumber pengalaman belajar murid
4) membantu guru dalam menggunakan metode dan
alat pelajaran modern
5) membantu guru dalam
memenuhi kebutuhan murid
6) membantu guru dalam menilai
kemajuan murid dan hasil pekerjaan guru itu sendiri
7) membantu guru dalam membina
reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan
jabatan mereka
8) membantu guru di sekolah sehingga mereka
merasa gembira dengan tugas yang diperolehnya.
9) membantu guru agar lebih
mudah mengadakan penyesuaian terhadap, masyarakat dan cara-cara menggunakan
sumber masyarakat dan seterusnya.
10) membantu guru agar waktu dan tenaga guru
tercurahkan sepenuhnya dalam pembinaan sekolah.
B. Sasaran supervisi pendidikan
Sasaran supervisi pendidikan ada
dua yaitu :
a. Secara umum
sasarannya adalah proses pembelajaran peserta didik dengan tujuan meningkatkan
mutu proses dan hasil pembelajaran. Karena itu supervisi pendidikan menaruh
perhatian utama pada upaya-upaya peningkatan provesionalitas guru sehingga
memiliki kemampuan:
1) Merencanakan kegiatan pembelajaran,
2) Melaksanakan pembelajaran,
3) Menilai proses dan hasil pembelajaran,
4) Memanfaatkan hasil
penilaian
5) Memberikan umpan balik,
6) Melayani peserta didik yang
mengalami kesulitan,
7)
Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan,
8)
Mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu pembelajaran,
9) Memanfaatkan sumber-sumber
pembelajaran yang tersedia,
10) Mengembangkan interaksi pembelajaran
(strategi, metode, dan teknik),
11) Melakukan
penelitian praktis untuk perbaikan pembelajaran.
b. Secara khusus dapat
diklasifikasikan:
1) Sasaran administratif
(teknis administratif) misal perangkat pembelajaran, meliputi administrasi
personal, material, keuangan serta administrasi sarana dan prasarana pendidikan.
2) Sasaran edukatif (teknis
edukatif) misal pelaksanaan pembelajaran, kegiatan yang meliputi kurikulum, PBM
dan evaluasi.
3) Sasaran lembaga, yaitu
ditujukan pada keseluruhan aktifitas sekolah.
II.3. Tugas dan Fungsi Supervisi
Pendidikan
A. Tugas Supervisi
Pendidikan
Seorang supervisior dapat dilihat dari tugas yang dikerjakannya. Seorang
pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor tampak jelas perannya.
Sesuai dengan pengertian hakiki supervisi, maka supervisi berperan atau
bertugas memberi support (supporting), membantu (assisting) dan
mengikutsertakan (sharing).
Selain
itu, seorang supervisior bertugas sebagai:
a)
Koordinator.
b)
Konsultan.
c)
Pemimpin Kelompok.
d)
Evaluator .
Tugas
lain bagi seorang supervisi atau pengawas akademik, yakni mencakup hal-hal
berikut:
1) Mengupayakan agar guru
lebih bersungguh-sungguh dan bekerja lebih keras serta bersemangat dalam
mengajar.
2) Mengupayakan agar sistem
pengajaran ditata sedemikian rupa sehingga berlaku prinsip belajar tuntas,
yaitu guru harus berupaya agar murid benar-benar menguasai apa yang telah
diajarkan dan tidak begitu saja melanjutkan pengajaran ke tingkat yang lebih
tinggi jika murid Belum tuntas penguasaannya.
3) Memberikan tekanan
(pressure) terhadap guru untuk mencapai tujuan pengajarannya, dengan disertai
bantuan (support) yang memadai bagi keberhasilan tugasnya.
4) Membuat kesepakatan dengan
guru maupun dengan sekolah mengenai jenis dan tingkatan dari target output yang
harus mereka capai sehubungan dengan keberhasilan pengajaran.
5) Secara berkala melakukan
pemantauan dan penilaian (assessment) terhdap keberhasilan (efektifitas)
mengajar guru, khususnya dalam kaitannya dengan kesepakatan yang dibuat pada
butir (4) di atas.
6) Membuat persiapan dan perencanaan kerja dalam
rangka pelaksanaan butir-butir di atas, menyusun dokumentasi dan laporan bagi
setiap kegiatan, serta mengembangkan sistem pengelolaan data hasil pengawasan.
7) Melakukan koordinasi serta membuat
kesepakatan-kesepakatan yang diperlukan dengan kepala sekolah, khususnya dalam
hal yang berkenaan dengan pemantauan dan pengendalian efektifitas pengajaran
serta hal yang berkenaan dengan akreditas sekolah yang bersangkutan.
B. Fungsi Supervisi
Pendidikan
Secara
umum fungsi supervisi adalah perbaikan
pengajaran. Berikut ini berbagai pendapat para tentang fungsi supervisi, di
antaranya adalah:
a) Ayer, Fred E, menganggap fungsi supervisi untuk memelihara
program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga ada perbaikan.
b) Franseth Jane, menyatakan
bahwa fungsi supervisi memberi bantuan terhadap program pendidikan melalui
bermacam-macam cara sehingga kualitas kehidupan akan diperbaiki.
c) W.H. Burton dan Leo J.
Bruckner menjelaskan bahwa fungsi utama dari supervisi modern ialah menilai dan
memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi hal belajar.
d) Kimball Wiles, mengatakan bahwa
fungsi supervisi ialah memperbaiki situasi belajar anak-anak.
Usaha
perbaikan merupakan proses yang kontinu sesuai dengan perubahan masyarakat.
Masyarakat selalu mengalami perubahan.Perubahan masyarakat membawa pula
konsekuensi dalam bidang pendidikan dan pengajaran.Suatu penemuan baru
mengakibatkan timbulnya dimensi-dimensi dan persepektif baru dalam bidang ilmu
penegetahuan.
Makin
jauh pembahasan tentang supervisi makin nampak bahwa kunci supervisi bukan
hanya membicarakan perbaikan itu sendiri, melainkan supervisi yang diberikan
kepada guru-guru, menurut T.H. Briggs juga merupakan alat untuk mengkoordinasi,
menstimulasi dan mengarahkan pertumbuhan guru-guru.
Dalam
suatu analisa fungsi supervisi yang diberikan oleh swearingen, terdapat 8 fungsi supervisi, yakni:
1. Mengkoordinasi Semua Usaha
Sekolah.
Koordinasi
yang baik diperlukan terhadap semua usaha sekolah untuk mengikuti perkembangan
sekolah yang makin bertambah luas dan usaha-usaha sekolah yang makin menyebar,
diantaranya:
a.
Usaha tiap guru.
b.
Usaha-usaha sekolah.
c.
Usaha-usaha pertumbuhan jabatan.
2. Memperlengkapi Kepemimpinan
Sekolah
Yakni,
melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka memiliki ketrampilan dan
kepemimpinan dalam kepemimpinan sekolah.
3. Memperluas Pengalaman
Yakni,
memberi pengalaman-pengalaman baru kepada anggota-anggota staf sekolah,
sehingga selalu anggota staf makin hari makin bertambah pengalaman dalam hal
mengajarnya.
4. Menstimulasi Usaha-Usaha
yang Kreatif
Yakni,
kemampuan untuk menstimulir segala daya kreasi baik bagi anak-anak, orang yang
dipimpinnya dan bagi dirinya sendiri.
5. Memberikan Fasilitas dan
Penilaian yang Kontinu
Penilaian
terhadap setiap usaha dan program sekolah misalnya, memiliki bahan-bahan
pengajaran, buku-buku pengajaran, perpustakaan, cara mengajar, kemajuan
murid-muridnya harus bersifat menyeluruh dan kontinyu.
6. Menganalisa Situasi Belajar
Situasi
belajar merupakan situasi dimana semua faktor yang memberi kemungkinan bagi
guru dalam memberi pengalaman belajar kepada murid untuk mencapai tujuan
pendidikan.
7. Memberi Pengetahuan dan
Ketrampilan pada Setiap Anggota Staf
Supervisi
berfungsi memberi stimulus dan membantu guru agar mereka memperkembangkan
pengetahuan dan ketrampilan dalam belajar.
8. Mengintegrasikan Tujuan dan
Pembentukan Kemampuan
Fungsi supervisi di sini adalah membantu setiap individu, maupun kelompok
agar sadar akan nilai-nilai yang akan dicapai itu, memungkinkan penyadaran akan
kemampuan diri sendiri.
Fungsi
supervior (pengawas) oleh karenanya menjadi penting, sebagaimana tertuang dalam
Kepmen PAN Nomor 118/1996 yang menyebutkan bahwa pengawas diberikan tanggung
jawab dan wewenag penuh untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan
pendidikan, penilaian dan pembinaan teknis serta administratif pada satuan
pendidikan.
II.4. Prinsip-prinsip Dasar Supervisi Pendidikan
Beberapa
prinsip yang menjadi landasan bagi pelaksanaan supervisi klinis, adalah:
1.
Hubungan antara supervisor dengan guru, kepala sekolah dengan guru, guru dengan
mahasiswa PPL adalah mitra kerja yang bersahabat dan penuh tanggung jawab.
2.
Diskusi atau pengkajian balikan bersifat demokratis dan didasarkan pada data
hasil pengamatan.
3.
Bersifat interaktif, terbuka, obyektif dan tidak bersifat menyalahkan.
4.
Pelaksanaan keputusan ditetapkan atas kesepakatan bersama.
5.
Hasil tidak untuk disebarluaskan
6.
Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru, dan tetap berada
di ruang lingkup pembelajaran.
7.
Prosedur pelaksanaan berupa siklus, mulai dari tahap perencanaan, tahap
pelaksanaan (pengamatan) dan tahap siklus balikan.
Pancasila yang merupakan prinsip
asasi merupakan landasan utama pelaksanaan tugas sebagai supervisi. Selain
delapan hal diatas prinsip supervise dapat digolongkan menjadi 2 yaitu prinsip
positif dan prinsip negative. Prinsip positif adalah prisip yang patut diikuti
oleh seorang supervisi, sedangkan prinsip negatif merupakan prinsip yang
sebaiknya dihindari.
1)
Prinsip positif
a)
Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif
b)
Supervisi bersifat kreatif dan konstruktif
c) Supervisi harus scientific dan efekti
d)
Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman pada guru
e)
Supervisi harus berdasarkan kenyataan
f) Supervisi harus memberi kesempatan kepada
supervisor dan guru untuk mengadakan self-evaluation
g)
Seorang supervisor tidak boleh bersifat otoriter
h)
Seorang supervisor tidak bolah mencari kesalahan guru-guru
2)
Prinsip Negatif
a.
Tidak otoriter
b.
Tidak berasas kekuasaan
c.
Tidak lepas dari tujuan pendidikan
d.
Bukan mencari kesalahan
e.
Tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil
II.5. Tipe-Tipe Supervisi Pendidikan
1. Tipe Otokrat
Tipe
seperti ini biasanya terjadi dalam administrasi dan model kepemimpinan
yang otokratis, mengutamakan pada upaya mencari kesalahan orang lain, bertindak
sebagai “Inspektur” yang bertugas mengawasi pekerjaan guru.Supervisi ini
dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan
petugas di sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas
yang diperintahkan serta ditentukan oleh atasannya.
2. Tipe Laisses Faire
Tipe
ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi inspeksi bawahan
diawasi secara ketat dan harus menurut perintah atasan, pada supervisi Laisses
Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk
yang benar. Misalnya: guru boleh mengajar sebagaimana yang mereka inginkan baik
pengembangan materi, pemilihan metode
ataupun alat pelajaran.
3. Tipe Coersive
Tipe
ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi.Sifatnya memaksakan kehendaknya.Apa
yang diperkirakannya sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan
kondisi atau kemampuan pihak yang disupervisi tetap saja dipaksakan berlakunya.
Guru sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa harus demikian.
Supervisi ini mungkin masih bisa diterapkan secara tepat untuk hal-hal yang
bersifat awal.Contoh supervisi yang dilakukan kepada guru yang baru mulai
mengajar.Dalam keadaan demikian, apabila supervisor tidak bertindak tegas, yang
disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu dan bahkan kehilangan arah yang pasti.
4. Tipe Training dan Guidance
Tipe
ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan.Hal yang positif dari
supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu mendapatkan latihan dan
bimbingan dari kepala sekolah.Sedangkan dari sisi negatifnya kurang adanya
kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu mengembangkan diri tanpa
selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya.
5. Tipe Demokratis
Selain kepemimpinan
yang bersifat demokratis, tipe ini juga memerlukan kondisi dan situasi yang
khusus.Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin
saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para
anggota atau warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.
II.6.
Tehnik-tehnik Supervisi Pendidikan
Teknik
supervisi Pendidikan adalah atat
yang digunakan oleh supervisor untuk mencapai tujuan supervisi itu sendiri yang
pada akhir dapat melakukan perbaikan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan
kondisi. Dalam pelaksanaan supervisi
pendidikan, sebagai supervisor harus mengetahui dan memahami serta
melaksanakan teknik – teknik dalam supervisi. Berbagai macam teknik dapat
digunakan oleh supervisor dalam membantu guru meningkatkan situasi belajar
mengajar, baik secara kelompok maupun secara perorangan ataupun dengan cara
langsung bertatap muka dan cara tak langsung bertatap muka atau melalui media
komunikasi (Sagala 2010 : 210).
Adapun
teknik – teknik Supervisi adalah sebagai berikut :
1. Teknik Supervisi yang bersifat kelompok
Teknik
Supervisi yang bersifat kelompok ialah teknik supervisi yang dilaksanakan
dalam pembinaan guru secara bersama – sama oleh supervisor dengan
sejumlah guru dalam satu kelompok (Sahertian 2008 : 86). Teknik
Supervisi yang bersifat kelompok antara lain : (Sagala 2010 : 210 - 227)
a. Pertemuan Orientasi
bagi guru baru.
Pertemuan
orientasi adalah pertemuan anatar supervisor dengan supervise (Terutama guru
baru) yang bertujuan menghantar supervisee memasuki suasana kerja yang baru
dikutip menurut pendapat Sagala (2010 : 210) dan Sahertian (2008 : 86). Sistem
kerja yang berlaku di sekolah itu.
b. Rapat guru
Rapat
Guru adalah teknik supervisi kelompok melalui rapat guru yang dilakukan untuk
membicarakan proses pembelajaan, dan upaya atau cara meningkatkan profesi guru.
(Pidarta 2009 : 71).
c. Studi kelompok antar
guru
Studi
kelompok antara guru adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah guru
yang memiliki keahlian dibidang studi tertentu, seperti MIPA, Bahasa, IPS dan
sebagainya, dan dikontrol oleh supervisor agar kegiatan dimaksud tidak berubah
menjadi ngobrol hal – hal yang tidak ada kaitannya dengan materi. Topik yang
akan dibahas dalam kegiatan ini telah dirumuskan dan disepakati terlebih
dahulu.
d. Diskusi
Diskusi
adalah pertukaran pikiran atau pendapat melalui suatu percakapan tentang suatu
masalah untuk mencari alternatif pemecahannya. Diskusi merupakan salah satu
teknik supervisi kelompok yang digunakan supervisor untuk mengembangkan
berbagai ketrampilan pada diri para guru dalam mengatasi berbagai masalah atau
kesulitan dengan cara melakukan tukar pikiran antara satu dengan yang lain.
Melalui teknik ini supervisor dapat membantu para guru untuk saling
mengetahui, memahami, atau mendalami suatu permasalahan, sehingga secara
bersama – sama akan berusaha mencari alternatif pemecahan masalah tersebut
(Sagala 2010 : 213).
e. Workshop
Workshop
adalah suatu kegiatan belajar kelompok yang terjadi dari sejumlah pendidik yang
sedang memecahkan masalah melalui percakapan dan bekerja secara kelompok.
f. Tukar menukar pengalaman
Tukar menukar pengalaman “Sharing of Experince” suatu teknik perjumpaan dimana
guru menyampaikan pengalaman masing-masing dalam mengajar terhadap topik-topik
yang sudah diajarkan, saling memberi dan menerima tanggapan dan saling belajar
satu dengan yang lain.
2. Teknik Individual dalam Supervisi
Teknik
Individual Menurut Sahertian yang dikutip oleh Sagala (2010 : 216) adalah
teknik pelaksanaan supervisi yang digunakan supervisor kepada pribadi – pribadi
guru guna peningkatan kualitas pengajaran disekolah. Teknik – teknik individual
dalam pelaksanaan supervisi antara lain :
a. Teknik Kunjungan
kelas
Teknik
kunjungan kelas adalah suatu teknik kunjungan yang dilakukan supervisor ke
dalam satu kelas pada saat guru sedang mengajar dengan tujuan untuk membantu
guru menghadapi masalah/kesulitan mengajar selama melaksanakan kegiatan pembelajaran.
b. Teknik Observasi Kelas
Teknik
observasi kelas dilakukan pada saat guru mengajar. Supervisor mengobservasi
kelas dengan tujuan untuk memperoleh data tentang segala sesuatu yang terjadi
proses belajar mengajar. Data ini sebagai dasar bagi supervisor melakukan
pembinaan terhadap guru yang diobservasi.
c. Percakapan
Pribadi
Percakapan
pribadi merupakan Dialog yang dilakukan oleh guru dan supervisornya, yang
membahas tentang keluhan – keluhan atau kekurangan yang dikeluarkan oleh guru
dalam bidang mengajar, di mana di sini supervisor dapat memberikan jalan
keluarnya. Dalam percakapan ini supervisor berusaha menyadarkan guru akan
kelebihan dan kekurangannya.
d. Intervisitasi (mengunjungi
sekolah lain)
Teknik
ini dilakukan oleh sekolah-sekolah yang masih kurang maju dengan menyuruh
beberapa orang guru untuk mengunjungi sekolah – sekolah yang ternama dan maju
dalam pengelolaannya untuk mengetahui kiat – kiat yang telah diambil sampai
seekolah tersebut maju.
e. Penyeleksi berbagai
sumber materi untuk mengajar.
Teknik
pelaksanaan supervisi ini berkaitan dengan aspek – aspek belajar mengajar.
Dalam usaha memberikan pelayanan profesional kepada guru, supervisor pendidikan
akan menaruh perhatian terhadap aspek – aspek proses belajar mengajar sehingga
diperoleh hasil yang efektif. supervisor harus mempunyai kemampuan menyeleksi
berbagai sumber materi yang digunakan guru untuk mengajar.
f. Menilai diri sendiri
Guru
dan supervisor melihat kekurangan masing-masing yang mana ini dapat memberikan
nilai tambah pada hubungan guru dan supervisor tersebut,yang akhirnya akan
memberikan nilai positif bagi kegiatan belajar mengajar yang baik. Menilai diri
sendiri merupakan tugas yang tidak mudah bagi guru, karena suatu pengukuran
terbalik karena selama ini guru hanya menilai murid-muridnya.
II.7. Peranan Guru dalam Pelaksanaan
Supervisi Pendidikan
Seperti
telah dikemukakan, supervisi pendidikan bertujuan utnuk membantu guru dalam
memperbaiki proses belajar mengajar melaluyi peningkatan kompetensi guru itu
sendiri dalam melaksanakan tugas profesional mengajarnya. Seperti juga berlaku
untuk segala kegiatan, usaha bantuan ini tidak akan berhasil apabila tidak ada
keinginan untuk bekerjasama dan tidak ada sikap kooperatif baik dari yang
dibantu yaitu guru sendiri maupun supervisor. Dengan demikian peranan guru
terhadap berhasil tidaknya program supervisi ini adalah sngat besar. Peranan
guru dalam supervisi secara lebih rinci dapat ditelusuri dari proses
pelaksanaan supervisi itu sendiri.
Sebagai
supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara
kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik supervise juga harus guru
kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar
mengajar menjadi lebih baik .Meskipun tujuan akhir dari pemberian supervisi
adalah tertuju pada hasil belajar siswa, namun yang diutamakan adalah bantuan
kepada guru.Karena guru adalah pelaksana pendidikan
II.8. Implementasi Guru sebagai
Supervisor
1.
Guru Sebagai Contoh
Dalam The Professional Teacher, Norlander-Case,
Reagen, dan Charles Case mengungkapkan bahwa tugas mengajar merupakan
profesi moral yang mesti dimiliki oleh seorang guru. Senada dengan prinsip
tersebut, Zakiah Darajat menyatakan bahwa persyaratan seorang guru di samping
harus memiliki kedalaman ilmu pengetahuan, ia juga bahkan mesti seorang yang
bertakwa kepada Allah dan mempunyai akhlak atau berkelakuan baik.
Hal ini berarti
bahwa syarat krusial bagi seorang guru adalah kepribadiannya yang luhur, mulia,
dan bermoral sehingga mampu menjadi cermin yang memantulkan semua akhlak mulia
tersebut bagi seluruh murid-muridnya.
Dengan kata lain, seorang guru yang berkepribadian mulia adalah seorang
guru yang mampu memberi keteladanan bagi murid-muridnya.
Sebab, secara
sederhana mudah dipahami bahwa guru yang tidak bertakwa sangat sulit atau tidak
mungkin bisa mendidik murid-muridnya menjelma orang-orang yang bertakwa kepada
Allah. Begitu pula para guru yang tidak memiliki akhlak yang mulia atau budi
pekerti yang luhur tidak akan mungkin mampu mendidik siswa-siswa mereka menjadi
orang-orang yang berakhlak mulia.
Guru sebagai
contoh bagi murid-muridnya harus memiliki sikap dan kepribadian utuh yang dapat
dijadikan tokoh panutan idola dalam seluruh aspek kehidupannya. Dalam paradigma
sebagian pakar pendidikan, kepribadian seorang guru tersebut meliputi:
Ø kemampuan mengembangkan kepribadian
Ø kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara arif
bijaksana
Ø kemampuan melaksanakan bimbingan dan penyuluhan.
Kompetensi
kepribadian terkait pula dengan penampilan sosok guru sebagai individu yang
mempunyai kedisiplinan, berpenampilan baik, bertanggungjawab, memiliki
komitmen, dan menjadi teladan.
Menjadi seorang
guru yang mampu memberi contoh mengartikan bahwa jabatan guru sebagai pilihan
utama yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam.
2.
Guru sebagai Proses Sharing Of Ideas
Guru sebagai Sharing
of ideas mengartikan bahwa guru mempunyai bagian dalam membicarakan
pandangan ke depan tentang kemajuan sekolah. Misalnya dalam penentuan metode
mengajar yang cocok, media yang digunakan, dan semua unsure dalam menunjang
proses belajar.
3.
Guru Dalam Merancang Supervisi Klinis
Johan J. Bolla
( 1985 : 19 ) mengatakan bahwa, supervisiklinis
adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan
profesional guru
dalam pelaksanaan proses pemelajaran. Bimbingan diarahkan pada upaya
pemberdayaan guru dalam menguasai aspek teknis pemelajaran. Dengan bimbingan
tersebut diharapkan terjadi peningkatan kualitas pemelajaran.
Pelaksanaan supervisiklinis menuntut perobahan paradigma guru dan supervisor. Supervisi dilakukan bukan dalam kontek mencari kesalahan
dan kelemahan guru yang di supervisi. Antara guru yang disupervisi
dengan supervisor adalah mitra sejajar, bukan merupakan hubungan antara bawahan
dan atasan dan atau hubungan antara guru dengan murid. Secara kemitraan keduanya menganalisis proses
pemelajaran yang telah dirancang dan disepakati, kemudian dicarikan
alternatif pemecahan permasalah yang ditemui dalam proses pemelajaran tersebut
agar dapat ditingkatkan kualitasnya.
BAB III
PENUTUP
III.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat penulis ambil
dalam penulisan makalah ini adalah :
1.
serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan
profesional yangdiberikan oleh supervisor ( Pengawas sekolah, kepala sekolah,
dan pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar.
2.
Menurut Mulyasa (2002) merumuskan tujuan supervisi sebagai bantuan dan
kemudahan yang diberikan pada guru untuk belajar bagaimana meningkatkan
kemampuan mereka guna mewujudkan tujuan belajar.
3.
Secara umum sasarannya adalah proses pembelajaran peserta didik dengan tujuan
meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Secara khusus dapat
diklasifikasikan: Sasaran administratif (teknis administratif) misal perangkat
pembelajaran, meliputi administrasi personal, material, keuangan serta
administrasi sarana dan prasarana pendidikan; Sasaran edukatif (teknis
edukatif) misal pelaksanaan pembelajaran, kegiatan yang meliputi kurikulum, PBM
dan evaluasi; dan Sasaran lembaga, yaitu ditujukan pada keseluruhan aktifitas
sekolah.
4. Seorang supervisior dapat dilihat dari tugas yang dikerjakannya.
Seorang pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor tampak jelas
perannya. Sesuai dengan pengertian hakiki supervisi, maka supervisi berperan
atau bertugas memberi support (supporting), membantu (assisting) dan
mengikutsertakan (sharing). Secara umum fungsi
supervisi adalah perbaikan pengajaran.
5.
Pancasila yang merupakan prinsip asasi merupakan landasan utama pelaksanaan
tugas sebagai supervisi. Selain delapan hal diatas prinsip supervise dapat
digolongkan menjadi 2 yaitu prinsip positif dan prinsip negative. Prinsip
positif adalah prisip yang patut diikuti oleh seorang supervisi, sedangkan
prinsip negatif merupakan prinsip yang sebaiknya dihindari.
6.
Tipe-tipe Supervisi pendidikan : Tipe Otokrat, Tipe Laisses Faire, Tipe
Coersive, Tipe Training dan Guidance, dan Tipe Demokratis
7.
Tehnik-tehnik supervisi secara umum yaitu tehnik supervisi yang bersifat
kelompok dan tehnik supervisi bersifat individual.
8.
Implementasi guru sebagai supervisor yaitu guru sebagai contoh, guru sebagai
proses sharing of ideas, dan guru
dalam merancang supervisi klinis.
III.2. Saran
Topik makalah ini penting untuk
calon seorang guru, sehingga penulis berharap, pembaca dapat memahami isi dari
makalah ini dengan sebaik-baiknya.Dengan adanya makalah ini, penulis berharap
pembaca bisa mengambil hal-hal penting dari makalah ini sehingga ilmu-ilmu yang
telah diperoleh dari makalah ini dapat disampaikan ke yang lainnya.
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, jangan hanya
mengandalkan sumber atau referensi dari makalah ini. Pembaca juga harus mencari
sumber lain yang mendukung pembahasan topik makalah ini sehingga akan dapat
menambah pengetahuan pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar