MAKALAH
LATAR DALAM FIKSI
(Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kajian Dan Apresiasi Prosa Fiksi)
(Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kajian Dan Apresiasi Prosa Fiksi)
Dosen Pengampu :
(Mia Fatimatul Munsi, S.Pd., M.Pd.)
oleh :
S RAHAYU RAHMAWATI LEISUBUN
TANTRI AGUSTIANTI RAHMAH
TANTRI AGUSTIANTI RAHMAH
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SURYAKANCANA
CIANJUR
CIANJUR
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Latar atau setting
dalam fiksi bukan hanya sekedar background, artinya bukan hanya menunujukan
tempat kejadian dan kapan terjadinya. Sebuah cerpen atau novel memang harus
terjad di suatu tempat. Harus ada tempat dan ruang kejadian. Dalam fiksi lama
tempat kejadian cerita dan tahun-tahun terjadinya disebutkan panjang lebar oleh
penulisnya. Dan disitu setting hanya sekedar tempat terjadinya.
Pengarang merupakan
anggota yang hidup dan berhubungan dengan orang- orang yang berada
disekitarnya, maka dalam proses penciptaan karya sastra seorang pengarang tidak
terlepas dari pengaruh lingkungannya. Oleh karena itu karya sastra yang lahir
ditengah-tengah masyarakat merupakan hasil pengungkapan jiwa pengarang tentang kehidupan,
peristiwa, serta pengalaman hidup yang telah dihayatinya.
Sebagai anggota
masyarakat, pengarang dalam menciptakan suatu karya sastra mencerminkan kondisi
masyarakatnya. Oleh karena itu, sebuah karya sastra tidak pernah berangkat dari
kekosongan sosial. Artinya karya sastra tersebut ditulis berdasarkan kehidupan
sosial masyarakat tertentu dan menceritakan kebudayaan-kebudayaan yang
melatarbelakanginya.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka yang menjadi rumusan dalam penulisan makalah ini adalah sbb :
1.
Apakah yang dimaksud hakikat latar atau setting dalam karya fiksi?
2. Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur latar?
3. Apa pengertian latar berdasarkan fungsinya?
2. Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur latar?
3. Apa pengertian latar berdasarkan fungsinya?
C.
Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan
masalah di atas, maka yang menjadi
tujuan dalam penulisan makalah ini
adalah sbb :
1.
Mendiskripsikan hakikat latar atau setting dalam karya fiksi.
2. Menjabarkan unsur-unsur latar.
3. Menjelaskan pengertian latar berdasarkan fungsinya.
2. Menjabarkan unsur-unsur latar.
3. Menjelaskan pengertian latar berdasarkan fungsinya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Latar Sebagai Unsur Fiksi
- Pengertian dan Hakikat Latar
Berhadapan dengan karya
fiksi, pada hakikatnya kita berhadapan dengan sebuah dunia, dunia dalam
kemungkinan, sebuah dunia yang sudah dilengkapi dengan tokoh penghuni dan
permasalahan. Namun tentu saja, hal itu kurang lengkap sebab tokoh dengan
berbagai pengalaman hidupnya itu memerlukan ruang lingkup, tempat dan waktu,
sebagaimana halnya kehidupan manusia di dunia nyata. Dengan kata lain, fiksi
sebagai sebuah dunia, disamping membutuhkan tokoh, alut, dan plot juga perlu
yang namanya latar.
Latar yang disebut juga sebagai landas tumpu, meyaran kepada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:175). Stanton (1965) mengelompokkan latar, bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta atau cerita sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi, dan dapat diimajinasi oleh pembaca secara faktual jika membaca cerita fiksi. Atau, ketiga hal inilah yang secara konkret dan langsung membentuk cerita: tokoh cerita adalah pelaku dan penderita kejadian kejadian yang bersebab akibat, dan itu perlu pijakan, di mana dan kapan. Misalnya, dalam Bawuk karya Umar Kayam yang dengan tokoh utama Bawuk, cerita terjadi di Karangrandu, waktu sejak zaman penjajahan Belanda dan terutama sekitar masa pemberontakan G-30-S/PKI, lingkungan social Jawa kelas menengah atas.
Latar yang disebut juga sebagai landas tumpu, meyaran kepada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:175). Stanton (1965) mengelompokkan latar, bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta atau cerita sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi, dan dapat diimajinasi oleh pembaca secara faktual jika membaca cerita fiksi. Atau, ketiga hal inilah yang secara konkret dan langsung membentuk cerita: tokoh cerita adalah pelaku dan penderita kejadian kejadian yang bersebab akibat, dan itu perlu pijakan, di mana dan kapan. Misalnya, dalam Bawuk karya Umar Kayam yang dengan tokoh utama Bawuk, cerita terjadi di Karangrandu, waktu sejak zaman penjajahan Belanda dan terutama sekitar masa pemberontakan G-30-S/PKI, lingkungan social Jawa kelas menengah atas.
Tahap awal karya fiksi pada umumnya
brisi penyituasian, pengenalan terhadap yang diceritakan misalnya, pengenalan
tokoh, pelukisan keadaan alam, lingkungan suasana, tempat, mungkin juga
hubungan waktu dan lain-lain yang dapat menuntun pembaca secara emosional
kepada suatu cerita. Latar Fisik Dan Spritual. Membaca sebuah novel kita akan
bertemu dengan lokasi tertentu seperti; nama kota, jalan, rumah, dan lain-lain
tempat terjadinya pristiwa. Disamping itu, kita juga berurusan dengan hubungan
waktu seperti; malam, siang, pukul, tanggal, keadaan geografis, atau kejadian
yang menyaran pada waktu tipikal tertentu dan sebagainya.
2. Latar Netral Dan Tipikal
Latar netral tidak memiliki dan tidak mendiskripsikan sifat khas tertentu yang menonjol yang terdapat dalam sebuah latar, sesuatu yang mungkin dapat membedakannya dengan latar-latar lain. Sifat yang ditunjukan latar tersebut lebih bersifat umum terhadap hal yang sejenis misalnya, desa, kota hutan, pasar, sehingga hal tersebut dapat berlaku dimana saja.
Latar tipikal memiliki dan menonjolkan sifat yang khas latar tertentu. Misalnya pada saat membaca Pengakuan Pariyem kita akan merasakan dominannya lingkungan social yang yang digambarkan, yaitu lingkungan masyarakat jawa. Dengan maksud agar pembaca terkesan dan dapat membandingkannya bahwa karya tersebut benar adanya dengan kenyataan realitisnya.
3. Penekanan Unsur Latar
Penekanan unsur-unsur latar bermaksud memperjelas suatu cerita baik itu dari gaya bahasa, karakter tokoh, geografis, social budaya, dan sebagainya. Sehingga membuat pembaca mejadi lebih pekah atau lebih memahami bahan bacaannya.
4. Latar Dan Unsur Fiksi Yang Lain
Latar sangat erat kaitannya dengan unsur fiksi yang lain dan bersifat timbal balik. Sifat-sifat latar dalam banyak hal akan mempengaruhi sifat-sifat tokoh. Bahkan bisa dikatakan bahwa sifat seseorang dibentuk oleh latarnya. Suatu contoh bisa kita lihat pada perbedaan sosial budaya, pola pikir, tingakah laku dan yang lainya pada setiap tokoh.
2. Latar Netral Dan Tipikal
Latar netral tidak memiliki dan tidak mendiskripsikan sifat khas tertentu yang menonjol yang terdapat dalam sebuah latar, sesuatu yang mungkin dapat membedakannya dengan latar-latar lain. Sifat yang ditunjukan latar tersebut lebih bersifat umum terhadap hal yang sejenis misalnya, desa, kota hutan, pasar, sehingga hal tersebut dapat berlaku dimana saja.
Latar tipikal memiliki dan menonjolkan sifat yang khas latar tertentu. Misalnya pada saat membaca Pengakuan Pariyem kita akan merasakan dominannya lingkungan social yang yang digambarkan, yaitu lingkungan masyarakat jawa. Dengan maksud agar pembaca terkesan dan dapat membandingkannya bahwa karya tersebut benar adanya dengan kenyataan realitisnya.
3. Penekanan Unsur Latar
Penekanan unsur-unsur latar bermaksud memperjelas suatu cerita baik itu dari gaya bahasa, karakter tokoh, geografis, social budaya, dan sebagainya. Sehingga membuat pembaca mejadi lebih pekah atau lebih memahami bahan bacaannya.
4. Latar Dan Unsur Fiksi Yang Lain
Latar sangat erat kaitannya dengan unsur fiksi yang lain dan bersifat timbal balik. Sifat-sifat latar dalam banyak hal akan mempengaruhi sifat-sifat tokoh. Bahkan bisa dikatakan bahwa sifat seseorang dibentuk oleh latarnya. Suatu contoh bisa kita lihat pada perbedaan sosial budaya, pola pikir, tingakah laku dan yang lainya pada setiap tokoh.
B.
Unsur Latar
Melalui analisis
terhadap latar, seseorang dapat mengetahui bagaimana keadaan, pekerjaan, dan
status sosial para tokoh. Seringkali latar juga berhubungan erat dengan nasib
seorang tokoh dalam sebuah teks. Artinya lingkungan sekitar kerap memberikan
efek secara langsung terhadap apa yang dikerjakan seorang pelaku. Ketika hujan
dan seorang tokoh sedang berjalan, maka ia akan mencari tempat berteduh dan jika
ia mempunyai payung maka ia akan segera menembus hujan. Tapi bila tidak sangat
mngkin ia akan melakukan interaksi dengan orang yang juga tengah berteduh. Secara umum latar
dibagi dalam:
1 .
Latar Tempat
Latar tempat ialah
tempat atau daerah terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Sangat mungkin
latar tempat sebuah karya fiksi terdapat di dalam ruangan dan tidak menutup
kemungkinan latar tempat terjadi di ruang lingkungan. Di jalanan atau di sebuah
kota misalnya.
- Latar Waktu
3.
Latar Sosial
Latar sosial ialah
lingkungan hidup dan sistem kehidupan yang ada di tengah-tengah para tokoh
dalam sebuah cerita. Pada umumnya latar sosial berhubungan erat dengan tiga
latar lainnya. Misalnya seorang mahasiswa umumnya tinggal di kos dan hanya
memiliki dua buah gelas di kamarnya dan seseorang bisa dipastikan menduduki
kelas sosial yang tinggi dalam sistem kehidupan bila ia memiliki sopir dan
pergi dengan alat transportasi mobil BMW. kegiatan untuk mengontrol seberapa
jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut.
4. Latar Alat
Latar alat ialah benda-benda yang
digunakan tokoh dalam sebuah cerita dan berhubungan dengan suatu lingkungan
kehidupan tertentu. Misalnya laptop, pena, buku catatan, KTM merupakan
alat-alat yang khas dimiliki mahasiswa.
5. Anakronisme
Ketidaksesuaian dengan
urutan perkembangan waktu dalam sebuah cerita. Seperti, ketidaksesuaian antara
waktu cerita dengan waktu sejarah biasanya menggunakan dua waktu yang berbedah
dalam masa berlakunya dalam satu waktu pada sebuah karya fiksi. Penyebab
anakronisme berupa masuknya “waktu” lampau ke dalam cerita yang berlatar waktu
kini, atau sebaliknya masuknya waktu masa “kini” ke dalam cerita yang berlatar
waktu lampau. Waktunya bisa berupa situasi, keadaan tempat, budaya, benda-benda
tertentu, nama, bahkan juga bahasa, yang hanya dimiliki oleh atau telah
dimiliki pada waktu tertentu.
C. Pengertian Latar Berdasar Fungsinya
Dari sisi fungsinya
latar sebagai pembangkit tanggapan atau suasana tertentu dalam suatu cerita.
Fungsi latar yang dimaksud adalah fungsi latar sebagai metafor dan dan latar
sebagai atmosfir.
1. Latar Sebagai Metafor
Penggunaan istilah
metafor mengarah pada suatu perbandingan yang mungkin berupa sifat keadaan,
suasana ataupun sesuatu yang lain. secara prinsip metafor merupakan cara
memandang atau menerima melalui sesuatu yang lain.
2. Latar Sebagai Atmosifr
Latar
yang secara langsung menyihir pembaca membawanya kepada suasana tertentu, suasana
sedih, marah, muram, seram, dan sebagainya. Hal ini sangat penting karena
disinilah kecerdasan para penulis menciptakan penyituasian yang dapat menarik
pembaca terhanyut dalam suasana yang terterah dalam suatu karya sastranya.
3.
Pengedepanan
Pengedepanan elemen latar dalam
fiksi dapat berupa penonjolan waktu dan dapat pula berupa penonjolan tempat
saja. Dalam banyak fiksi, waktu terjadinya peristiwa atau action tertentu
adalah sangat penting, misalnya geger Oktober 1965. Karya-karya fiksi yang mengedepankan
latar ruang atau tempat biasanya diklasifikasikan sebagai contoh-contoh fiksi
yang mengangkat warna lokal atau regionalisme. Pengarang-pengarang yang berasal
dari etnik tertentu sering berupaya mengamati dan menampilkan sejumlah efek
sebuah latar tempat (geografis) tertentu yang sangat bermakna, baik latar yang
bersifat fisik netral maupun yang spiritual terhadap tokoh.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Latar meruapakan salah
satu unsur pembentuk suatu karya sastra. Dalam cerpen atau novel modern setting
telah digarap para penulis menjadi unsur cerita yang penting. Ia terjalin erat
dengan karakter, tema , suasana cerita. Latar atau setting memberikan pijakan
cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan
realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah
sungguh-sungguh ada dan terjadi. Hal ini akan terjadi jika latar atau setting
mampu mengangkat suasana setempat, warna local, lengkap dengan perwatakannya ke
dalam cerita.
B.
Saran
Kami menyadari makalah
ini mungkin masih jauh dengan kata sempurna. Akan tetapi bukan berarti makalah
ini tidak berguna. Besar harapan yang terpendam dalam hati kami semoga makalah
ini dapat memberikan sumbangsi pada suatu saat terhadap makalah tema yang sama.
Dan dapat menjadi referensi bagi pembaca serta menambah ilmu pengetahuan bagi
kita semua.
Daftar Pustaka
Nursasongko, Pekik. 8 Januari 2008. Analisis Latar Pada Cerpen (online)(www.AnalisisLatarPadaCerpenPekikNursasongko.htm) diakses 07-Oktober-2015Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gaja Mada University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar