Jumat, 15 Oktober 2021

Selamat Datang di Dunia Blogg Saya Semoga Bermanfaat dan Membuat Hidup Anda Berwarna.

Jumat, 20 November 2015

Menulis Faktual Membuat Karangan Deskripsi



Pantai Balekambang Malang





            Masih melekat di mataku, pemandangan indah nan elok pantai Balekambang Malang. Gelombang ombak bergulung-gulung datang silih berganti menyambutku serasa ingin mengajak bermain. Air yang jernih dan pasir putih lembut yang menghampar luas tanpa ada tumbuh-tumbuhan atau karang yang menghalangi membuatku ingin kembali lagi. Di sebelah kanan-kiri, aku bisa memandang air laut sejauh mata memandang, pandai dengan bukit berbatu, pesisir serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Kurasakan dingin membasuh kakiku karena ombahk menghempas kakiku dan terasa asin air itu ketika bibirku terkena percikan.
            Sepanjang aku berjalan, hampir pinggiran pantai dipenuhi oleh pengunjung wisatawan. Kulihat ada yang berlari berkejar-kejaran di bibir pantai, bermain bola, bermain dengan air, berfoto-foto dengan latar sekitar pantai. Tapi yang paling membuatku tertarik, kulihat ada beberapa turis manca negara yang menikmati keindahan pantai ini dengan naik sepeda. Seperti apa yang aku lihat, pantai ini memang sangat ramai pengunjung. Tak pernah sunyi pantai Balekambang.

Senin, 02 November 2015

Menulis Faktual


Sinar UV dan Dampaknya bagi Kesehatan Kulit

            Sinar matahari bisa menjadi sahabat untuk seluruh mahluk hidup di muka bumi dengan memberikan berbagai macam manfaatnya. Sinar matahari pun dapat membantu tubuh kita untuk menghasilkan vitamin D yang mana bermanfaat bagi manusia untuk membentuk tulang. Namun, jika kita terkena terik matahari terlalu lama atau sering, maka sinar matahari akan menjadi musuh kita, terutama bagi orang-orang yang menginginkan kulit putih. Matahari memiliki sinar ultraviolet atau lebih sering disebut sebagai sinar UV merupakan bagian dari sinar matahari yang tidak terlihat atau tampak oleh mata, namun sinar UV ini dapat dirasakan oleh tubuh kita. Namun, sinar matahari itu juga memiliki bahaya yang bisa berdampak buruk pada kulit kita. Sinar matahari tidak sepenuhnya baik bagi kesehatan Anda, khususnya bagi kulit Anda. Kalau memang sinar matahari selamanya baik bagi kesehatan kulit, lalu mengapa produk-produk kesehatan selalu memproduksi pelembap yang dapat melindungi kulit dari paparan sinar matahari ?
            Dampak sinar uv dapat menimbulkanm hal-hal berikut ini:
  • membuat kulit terlihat kusam
  • menyebabkan kulit kering
  • kemerahan pada kulit 
  •  kulit terasa seperti terbakar 
  • penyebab bintik-bintik hitam atau coklat pada kulit
  • terjadi penuaan dini 
  • penyebab terjadinya kanker kulit
  • merusak kolagen pada kulit sehingga kulit cepat keriput
  • menimbulkan penebalan atau penipisan yang tidak normal pada kulit
  • menggelapkan warna kulit sehingga kulit putih pun bisa menjadi kehitaman
  • penyebab hilangnya warna atau pigmen kulit yang abnormal yang disebut dengan nama penyakit Vitiligo

            Memang kita membutuhkan sinar matahari dalam kehidupan di Bumi ini, tapi sinar UV dapat menyebabkan berbagai masalah pada kesehatan kulit manusia efek buruknya apabila terlalu lama terkena paparan sinar matahari. Jadi, bagi Anda yang sangat suka berjemur di bawah sinar matahari sebaiknya berhati-hatilah sekarang, meski sudah menggunakan sun-block, ataupun lotion anti sinar UV.






DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah. Sabarti dkk 2003. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama.
Bernando, Rahardian dkk. 2015. Kitab Lengkap EYD. Diva Press: Yogyakarta.
Kbbi.web.id




Selasa, 20 Oktober 2015

MAKALAH PELATARAN DALAM FIKSI



MAKALAH
LATAR DALAM FIKSI
(Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kajian Dan Apresiasi Prosa Fiksi)
Dosen Pengampu :
(Mia Fatimatul Munsi, S.Pd., M.Pd.)


oleh :
S RAHAYU RAHMAWATI LEISUBUN
TANTRI AGUSTIANTI RAHMAH


                                                                                                                                               








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SURYAKANCANA
CIANJUR
2015



BAB I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Latar atau setting dalam fiksi bukan hanya sekedar background, artinya bukan hanya menunujukan tempat kejadian dan kapan terjadinya. Sebuah cerpen atau novel memang harus terjad di suatu tempat. Harus ada tempat dan ruang kejadian. Dalam fiksi lama tempat kejadian cerita dan tahun-tahun terjadinya disebutkan panjang lebar oleh penulisnya. Dan disitu setting hanya sekedar tempat terjadinya.
Pengarang merupakan anggota yang hidup dan berhubungan dengan orang- orang yang berada disekitarnya, maka dalam proses penciptaan karya sastra seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Oleh karena itu karya sastra yang lahir ditengah-tengah masyarakat merupakan hasil pengungkapan jiwa pengarang tentang kehidupan, peristiwa, serta pengalaman hidup yang telah dihayatinya.
Sebagai anggota masyarakat, pengarang dalam menciptakan suatu karya sastra mencerminkan kondisi masyarakatnya. Oleh karena itu, sebuah karya sastra tidak pernah berangkat dari kekosongan sosial. Artinya karya sastra tersebut ditulis berdasarkan kehidupan sosial masyarakat tertentu dan menceritakan kebudayaan-kebudayaan yang melatarbelakanginya.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan dalam penulisan makalah  ini adalah sbb :
1. Apakah yang dimaksud hakikat latar atau setting dalam karya fiksi?
2. Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur latar?
3. Apa pengertian latar berdasarkan fungsinya?




C.       Tujuan Penulisan

Berdasarkan  rumusan masalah  di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah  ini adalah sbb :
1. Mendiskripsikan hakikat latar atau setting dalam karya fiksi.
2. Menjabarkan unsur-unsur latar.
3. Menjelaskan pengertian latar berdasarkan fungsinya.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.     Latar Sebagai Unsur Fiksi
  1. Pengertian dan Hakikat Latar
Berhadapan dengan karya fiksi, pada hakikatnya kita berhadapan dengan sebuah dunia, dunia dalam kemungkinan, sebuah dunia yang sudah dilengkapi dengan tokoh penghuni dan permasalahan. Namun tentu saja, hal itu kurang lengkap sebab tokoh dengan berbagai pengalaman hidupnya itu memerlukan ruang lingkup, tempat dan waktu, sebagaimana halnya kehidupan manusia di dunia nyata. Dengan kata lain, fiksi sebagai sebuah dunia, disamping membutuhkan tokoh, alut, dan plot juga perlu yang namanya latar.
Latar yang disebut juga sebagai landas tumpu, meyaran kepada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:175). Stanton (1965) mengelompokkan latar, bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta atau cerita sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi, dan dapat diimajinasi oleh pembaca secara faktual jika membaca cerita fiksi. Atau, ketiga hal inilah yang secara konkret dan langsung membentuk cerita: tokoh cerita adalah pelaku dan penderita kejadian kejadian yang bersebab akibat, dan itu perlu pijakan, di mana dan kapan. Misalnya, dalam Bawuk karya Umar Kayam yang dengan tokoh utama Bawuk, cerita terjadi di Karangrandu, waktu sejak zaman penjajahan Belanda dan terutama sekitar masa pemberontakan G-30-S/PKI, lingkungan social Jawa kelas menengah atas.
Tahap awal karya fiksi pada umumnya brisi penyituasian, pengenalan terhadap yang diceritakan misalnya, pengenalan tokoh, pelukisan keadaan alam, lingkungan suasana, tempat, mungkin juga hubungan waktu dan lain-lain yang dapat menuntun pembaca secara emosional kepada suatu cerita. Latar Fisik Dan Spritual. Membaca sebuah novel kita akan bertemu dengan lokasi tertentu seperti; nama kota, jalan, rumah, dan lain-lain tempat terjadinya pristiwa. Disamping itu, kita juga berurusan dengan hubungan waktu seperti; malam, siang, pukul, tanggal, keadaan geografis, atau kejadian yang menyaran pada waktu tipikal tertentu dan sebagainya.
2.  Latar Netral Dan Tipikal
            Latar netral tidak memiliki dan tidak mendiskripsikan sifat khas tertentu yang menonjol yang terdapat dalam sebuah latar, sesuatu yang mungkin dapat membedakannya dengan latar-latar lain. Sifat yang ditunjukan latar tersebut lebih bersifat umum terhadap hal yang sejenis misalnya, desa, kota hutan, pasar, sehingga hal tersebut dapat berlaku dimana saja.
            Latar tipikal memiliki dan menonjolkan sifat yang khas latar tertentu. Misalnya pada saat membaca Pengakuan Pariyem kita akan merasakan dominannya lingkungan social yang yang digambarkan, yaitu lingkungan masyarakat jawa. Dengan maksud agar pembaca terkesan dan dapat membandingkannya bahwa karya tersebut benar adanya dengan kenyataan realitisnya.

3. Penekanan Unsur Latar
            Penekanan unsur-unsur latar bermaksud memperjelas suatu cerita baik itu dari gaya bahasa, karakter tokoh, geografis, social budaya, dan sebagainya. Sehingga membuat pembaca mejadi lebih pekah atau lebih memahami bahan bacaannya.
4. Latar Dan Unsur Fiksi Yang Lain
            Latar sangat erat kaitannya dengan unsur fiksi yang lain dan bersifat timbal balik. Sifat-sifat latar dalam banyak hal akan mempengaruhi sifat-sifat tokoh. Bahkan bisa dikatakan bahwa sifat seseorang dibentuk oleh latarnya. Suatu contoh bisa kita lihat pada perbedaan sosial budaya, pola pikir, tingakah laku dan yang lainya pada setiap tokoh.
B.     Unsur Latar
            Melalui analisis terhadap latar, seseorang dapat mengetahui bagaimana keadaan, pekerjaan, dan status sosial para tokoh. Seringkali latar juga berhubungan erat dengan nasib seorang tokoh dalam sebuah teks. Artinya lingkungan sekitar kerap memberikan efek secara langsung terhadap apa yang dikerjakan seorang pelaku. Ketika hujan dan seorang tokoh sedang berjalan, maka ia akan mencari tempat berteduh dan jika ia mempunyai payung maka ia akan segera menembus hujan. Tapi bila tidak sangat mngkin ia akan melakukan interaksi dengan orang yang juga tengah berteduh. Secara umum latar dibagi dalam:
1 .    Latar Tempat

Latar tempat ialah tempat atau daerah terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Sangat mungkin latar tempat sebuah karya fiksi terdapat di dalam ruangan dan tidak menutup kemungkinan latar tempat terjadi di ruang lingkungan. Di jalanan atau di sebuah kota misalnya.

  1. Latar Waktu
    Latar waktu ialah waktu terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Latar waktu bisa berupa detik, menit, jam, jari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya. Tetapi juga sangat mungkin pengarang tida menentukan secara persis tahun, tanggal atau hari terjadinya peristiwa, namun hanya menyebutkan saat Hari Raya, Natal, tahun baru dan sebagainya yang pada akhirnya juga akan engacu kepada waktu seperti tanggal dan bulan tergantung latar tempat dalam cerita. Misalnya tahun baru di Indonesia identik dengan 1 Januari, namun di Arab tahun baru lebih identik pada 1 Muharram.
3.     Latar Sosial
Latar sosial ialah lingkungan hidup dan sistem kehidupan yang ada di tengah-tengah para tokoh dalam sebuah cerita. Pada umumnya latar sosial berhubungan erat dengan tiga latar lainnya. Misalnya seorang mahasiswa umumnya tinggal di kos dan hanya memiliki dua buah gelas di kamarnya dan seseorang bisa dipastikan menduduki kelas sosial yang tinggi dalam sistem kehidupan bila ia memiliki sopir dan pergi dengan alat transportasi mobil BMW. kegiatan untuk mengontrol seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut.
4.      Latar Alat
Latar alat ialah benda-benda yang digunakan tokoh dalam sebuah cerita dan berhubungan dengan suatu lingkungan kehidupan tertentu. Misalnya laptop, pena, buku catatan, KTM merupakan alat-alat yang khas dimiliki mahasiswa.
5.       Anakronisme

Ketidaksesuaian dengan urutan perkembangan waktu dalam sebuah cerita. Seperti, ketidaksesuaian antara waktu cerita dengan waktu sejarah biasanya menggunakan dua waktu yang berbedah dalam masa berlakunya dalam satu waktu pada sebuah karya fiksi. Penyebab anakronisme berupa masuknya “waktu” lampau ke dalam cerita yang berlatar waktu kini, atau sebaliknya masuknya waktu masa “kini” ke dalam cerita yang berlatar waktu lampau. Waktunya bisa berupa situasi, keadaan tempat, budaya, benda-benda tertentu, nama, bahkan juga bahasa, yang hanya dimiliki oleh atau telah dimiliki pada waktu tertentu.


C.      Pengertian Latar Berdasar Fungsinya
Dari sisi fungsinya latar sebagai pembangkit tanggapan atau suasana tertentu dalam suatu cerita. Fungsi latar yang dimaksud adalah fungsi latar sebagai metafor dan dan latar sebagai atmosfir.
1.   Latar Sebagai Metafor
Penggunaan istilah metafor mengarah pada suatu perbandingan yang mungkin berupa sifat keadaan, suasana ataupun sesuatu yang lain. secara prinsip metafor merupakan cara memandang atau menerima melalui sesuatu yang lain.
2. Latar Sebagai Atmosifr
            Latar yang secara langsung menyihir pembaca membawanya kepada suasana tertentu, suasana sedih, marah, muram, seram, dan sebagainya. Hal ini sangat penting karena disinilah kecerdasan para penulis menciptakan penyituasian yang dapat menarik pembaca terhanyut dalam suasana yang terterah dalam suatu karya sastranya.


3. Pengedepanan
            Pengedepanan elemen latar dalam fiksi dapat berupa penonjolan waktu dan dapat pula berupa penonjolan tempat saja. Dalam banyak fiksi, waktu terjadinya peristiwa atau action tertentu adalah sangat penting, misalnya geger Oktober 1965. Karya-karya fiksi yang mengedepankan latar ruang atau tempat biasanya diklasifikasikan sebagai contoh-contoh fiksi yang mengangkat warna lokal atau regionalisme. Pengarang-pengarang yang berasal dari etnik tertentu sering berupaya mengamati dan menampilkan sejumlah efek sebuah latar tempat (geografis) tertentu yang sangat bermakna, baik latar yang bersifat fisik netral maupun yang spiritual terhadap tokoh.


















BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
Latar meruapakan salah satu unsur pembentuk suatu karya sastra. Dalam cerpen atau novel modern setting telah digarap para penulis menjadi unsur cerita yang penting. Ia terjalin erat dengan karakter, tema , suasana cerita. Latar atau setting memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Hal ini akan terjadi jika latar atau setting mampu mengangkat suasana setempat, warna local, lengkap dengan perwatakannya ke dalam cerita.
B.       Saran
            Kami menyadari makalah ini mungkin masih jauh dengan kata sempurna. Akan tetapi bukan berarti makalah ini tidak berguna. Besar harapan yang terpendam dalam hati kami semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsi pada suatu saat terhadap makalah tema yang sama. Dan dapat menjadi referensi bagi pembaca serta menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua.







Daftar Pustaka
Nursasongko, Pekik. 8 Januari 2008. Analisis Latar Pada Cerpen (online)
(www.AnalisisLatarPadaCerpenPekikNursasongko.htm) diakses 07-Oktober-2015Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gaja Mada University Press.